Hari ini cuaca berawan gelap dan mendung. Pasti akan hujan lebat. "Jangan lupak ikak bawa mantel ujan TTB bapak tu, ok?" (Jangan lupa kalian bawa mantel hujan TTB bapak itu, ya?"), kata mamak kami sebelum kami pergi. TTB kepanjangan dari Tambang Timah Bangka. Kami hanya punya satu cadangan mantel hujan TTB dirumah. Satunya lagi dibawa oleh bapak kami pergi mengukur lahan timah dipedalaman hutan. Satu jas hujan dibagi dengan abang dan kedua adik perempuanku, tidaklah cukup. Tidak masalah, pasti ada jalan keluar kalau hujan turun. Aku sudah melihat Tini, Rohillah, Sinar, Siti, Udin, Eko, Abdul dan Lehet menunggu kami dihalaman rumah. "Maak, kami giii, oook!" (Maak, kami pergi, yaaa!"), teriak kami berempat serentak.
Kami pergi berjalan kaki bergerombol kesekolah SD Negeri 07 yang terletak diantara kampung Simpang dan kampung Jelutung. Perjalanan ini memakan waktu 40 menit s/d 1 jam. Jalan utama yang menghubungkan kompleks Tambang Timah Bangka (TTB) Ake dengan ketiga kampung tetangga kami yaitu kampung Simpang Rumbiak, kampung Simpang dan kampung Jelutung ini berupa tanah kuning, tidak beraspal, berlobang-lobang dan tidak rata. Seluruh anak-anak di Kompleks TTB Ake bersekolah di SD Negeri 07, yaitu sekolah satu-satunya didaerah kami. SD Negeri 07 ini adalah sekolah dasar Inpres atau Intruksi Presiden yang terbuat dari kayu bercat kapur kasar, beratap seng berlobang-lobang, berlantai semen kasar dan berlobang-lobang pula. Sekolah kami terdiri dari enam kelas yaitu kelas 1 sampai dengan kelas 6. Guru wali kelasku bernama Pak Topo, guru Jawa yang berbadan kecil dan kurus. Bahasa Indonesia dan bahasa Melayunya pun berlogat Jawa kental. Sehingga lucu didengar. Pak Topo adalah satu-satunya guru favoritku selama aku bersekolah di SD Negeri 07 ini. Walaupun pak Topo bisa jadi sangat galak sekali pada saat kami, murid-muridnya, tidak bisa mengerjakan Matematika, malas mengerjakan PR atau terlambat datang kesekolah. Tetap saja, bagiku Pak Topo adalah guru kesayanganku.
Waktu itu tidak semua anak bisa bersekolah dengan memakai seragam Merah Putih, bertopi, berdasi dan bersepatu. Kebanyakan orantua-orangtua kami kurang mampu, terutama teman-teman Melayu dan Cina kami yang tinggal di sekitar kampung Jelutung. Beberapa teman-teman sekelasku pergi kesekolah dengan berpakaian rumah, kadang bajunya tidak berkancing atau celana pendeknya ditambal sulam karena robek atau berlobang. Ada beberapa teman Cina kami yang datang bersekolah dengan hanya bersandal jepit atau bertelanjang kaki. Kami beruntung punya mamak yang pintar menjahit sehingga kami, kakak beradik, selalu punya seragam sekolah. Kami juga mempunyai sepatu hitam butut yang sama dengan kawan-kawan Melayu dan Cina kami lainnya. Sepatu sekolah butut kami ini selalu dijahit berkali-kali kalau depanya menganga, sehingga terlihat tali-tali jahitan sepatunya yang tumpang tindih. Atau kaki kami semangkin besar dan ukuran sepatu kami (sepertinya) semangkin mengecil. Kalau jempol kaki belum keluar dari sepatu, maka sepatu itu masih layak dipakai. Belum bisa mendapat sepatu sekolah baru. Itupun ditambah dengan satu syarat lagi yaitu nilai sekolah kami harus bagus, bila perlu juara dikelas masing-masing.
Dipertengahan jalan menujuh sekolah, awan semangkin hitam dan bergumul-gumul. Kami semuanya tahu, dalam hitungan detik, hujan lebat akan turun. Abangku sudah memakai jas hujan TTB warna hijau miliki bapak kami. Kami berempat akan berlindung didalam jas hujan yang bawahnya lebar sekali. Begitu juga dengan kawan-kawan kami yang punya jas hujan lainnya. Bagi yang tidak punya jas hujan hijau, maka berlarianlah semuanya mendahului kami sebelum hujan turun. Tentu antara kecepatan hujan dan kecepatan lari kawan-kawan kami itu tidak imbang. Hujan turun dengan lebatnya, disertai dengan petir yang saling sambar menyambar. Teman-teman yang berlari duluan tadi akhirnya berlindung dibawah pohon Nangka, Pohon Seruk dan pohon Cempedak yang banyak tumbuh disepanjang jalan. Kam,i kakak beradik berjalan perlahan-lahan, bersama-sama dalam satu jas hujan hijau, mirip dengan Keong. "Kurase kite ge harus betedo dibawah pohon, ok?" (Kurasa kitapun harus berteduh dibawah pohon, ya?"), teriakku kepada abang dan kedua adik perempuanku. Mereka bertiga mengangguk tanda setujuh. Lama kelamaan, terpaan air hujan mulai membasahi sepatu dan rok sekolah kami. Kami melihat gerombolan Udin, Eko, Abdul, Lehet, Rohillah, Tini, Siti dan Sinar sudah berdiri dan berjongkok dibawah pohon Cempedak sambil tangan mereka terlipat, bertekuk didada.
Hujan tak segera berhenti, kami sudah terlambat kesekolah. Pelajaran sudah dimulai. "Pasti pak Topo mara kek kite krena kite lum sampai-sampailah ke sekulah e!" ("Pasti pak Topo akan marah sama kita karena kita belum sampai juga kesekolah!"), teriak Eko tiba-tiba. Kami semuanya mengangguk, meringkuk kedinginan. Kami melihat aliran air hujan berwarna kuning bercampur dengan tanah kuning, mengalir deras menujuh kedataran lebih rendah, ke jalan Simpang Rumbiak dan Kolong Bijur. Daun-daun rimbun pohon Cempedak pun tidak mampu menahan derasnya tetesan-tetesan air hujan sehingga mulai membasahi Tini, Rohillah, Sinar, Siti, Udin, Eko, Abdul dan Lehet. "Yooo, kesinilah ikak betedo kek kami. Kelak ikak basa semuen e!" (Yuk, kesinilah kalian semuanya berteduh dengan kami! Nanti kalian basah semuanya!"), ajakku sambil melebarkan jas hujan kami. Aku, Abang dan kedua adik perempuanku merapat tubuh kami sehingga ada tempat untuk teman-teman berteduh, walaupun tidak sempurna. Hujan belum juga berhenti. Kami mulai khawatir.
Sudah satu jam kami menunggu, dibawah jas hujan bapak kami, dibawah pohon Cempedak. Tidak ada satu kendaraan pun yang lewat, kalau tidak kami bisa minta menumpang naik. Lobang-lobang jalan yang besar sudah terisi dengan air hujan kuning. Jujur saja, kami semuanya ingin bermain hujan. Tidak ada yang mau memulainya. Masih segan. Aku tidak tahan, aku keluar dari jas hujan kami, berlari ke lobang-lobang yang berisi air, meloncat dari satu lubang ke lubang yang lainnya. Aku mendengar abang dan kedua adik perempuanku berteriak supaya aku tidak main hujan. Teriakan mereka tidak aku perdulikan. Dari belakang kulihat Udin dan Toni menyemprot air dari lubang ke arahku, kena! Aku membalas balik semprotan mereka. Kami tertawa kesenangan. Lama kelamaan abangku, kedua adik perempuanku dan seluruh kawanku bergabung, mmain hujan, main semprot-semprotan, berlari, menghindar tendangan semprotan air atau membalas tendangan semprotan. Kami berteriak kesenangan, berjoget, sambil memandang keatas, melihat awan-awan gelap yang menumpahkan butir-butir hujan. Aku membuka mulutku, menampung tetesan-tetesan air hujan dan menelannya, aaaaaah... sedaaaaaaaaaaaap! "Ooooiiii! Berenti duluk. Cube muke ikak ngadep ke langit tuh, bukak mulut-mulut ikak, tampung aik e sampai penuh trus ikak telen aik hujan e, seger e...!" ("Oooooiii! Berhentilah dulu. Coba muka kalian menghadap ke langit dan buka mulut-mulut kalian, tampung airnya sampai penuh trus kalian telan air hujannya, enak sekali...!") kataku kepada semuanya. Kami melakukannya serentak, melihat ke langit sambil membuka mulut-mulut kami, menampung airnya sampai penuh dan menelan air hujan yang segar dan nikmat. Tidak banyak, tapi cukuplah.
Setelah itu, abangku, aku, Udin, dan Rohilah dan Tini, masuk dan duduk diselokan jalan sebelah kiri, yang dialiri oleh arus air hujan deras mengarah ke Kolong Bijur dibawah sana. Selokan dalam bahasa Melayu disebut Bandar. Kami semuanya duduk rapi segaris, seperti kereta api, sambil menikmati aliran air hujan yang deras melewati pantat-pantat kami sehingga basah kuyub. Kami tertawa kesenangan, mengajak yang lainnya untuk melakukan yang sama di bandar sebelah kanan. Abdul, Siti, Lehet, Sinar dan kedua adik perempuanku mengikuti perbuatan kami, duduk segaris sambil menikmati aliran deras air hujan yang menerjang dan membasahi pantat-pantat mereka. "Ikak jangan kencing celana, ok? Kelak kami yang dibawa ni bau pesing e?" ("Kalian jangan kencing celana ya? Ntar kami yang dibawah kalian ini akan bau kencing lho?"), pinta Udin yang duduk pas didepanku. Sudah terlambat, sebelum Udin berbicara aku sudah kencing celana duluan, tidak tahan karena dinginnya aliran air hujan itu. Kencing panas dan bau pesingnya mengenai Udin, Rohilah dan Tini. "Ka, kencing celanak ok? Ngape ade aik panas becampur bauk pesing ni?" (Kau kencing celana ya? Mengapa ada air panas becampur bau pesing ini?"), toleh Udin kebelakang sambil melihat kearahku. Aku terdiam, tidak bisa berdusta!
Aku mengiyakan sambil tertawa tertahan. Tiba-tiba semuanya bubar, naik keatas dan berdiri ditepi bandar. Udin, Rohilah dan Tini merasa terganggu dan jengkel melihatku. Kawan-kawan lainnya tertawa terpingkal-pingkal ketika mendengar aku kencing celana, mengenai Udin, Rohilah dan Tini. Mereka bertiga segera tidur terlentang di bandar, berbilas dan mengharap aliran air hujan akan membersihkan mereka bertiga dari bau air kencingku. Kami semuanya berjongkok, melihat ke bandar dan menonton mereka membalik-balikkan badan. Setelah bersih dari bau air kencingku, kami melanjutkan main semprot-semprotan, berkejar-kejaran, berteriak-teriak kesenangan, sampai baju-baju seragam putih kami berubah menjadi kuning.
Hujan masih turun, kami masih bermain hujan bersama-sama, basah kuyub. Kami melupakan sekolah kami. Tiba-tiba dari jalan setapak Simpang Rumbiak, Asuk Ahiung muncul, bersepeda, berjas hujan dan melihat kearah kami. Asuk Ahiung berhenti dan berteriak: "Ikak dak gi sekolah, ok? Awas kelak ikak dimarah kek pak Topo, kek urangtue-urangtue ikak! Lum kelak e ikak demem pulik kerna maen ujan!" (Kalian tidak sekolah, ya?" Awas ntar kalian dimarahi oleh Pak Topo dan orangtua-orangtua kalian semuanya. Belum nantinya kalian demam karena main hujan!"). Kami semuanya tersentak. Tersadarkan!
"Aaaoook, Suk! Kami nek gi lah ni! Lah jam berape, suk?" (Iya, pak. Kami mau pergilah ini! Sudah jam berapa, pak?") teriakku tiba-tiba. Asuk Ahiung melihat jamnya. "Jam 10.00! lah telambet igak ikak ke sekolah. Yo, larilah cepet!" (Jam 10.00! Kalian sudah terlambat ke sekolah! Ayo. cepat lari!"), seru asuk Ahiung sambil melanjutkan bersepeda menujuh kampung Simpang.
Kami berlari kebawah pohon Cempedak. Mengambil tas-tas sekolah kami yang kami simpan didalam jas hujan. Abangku melipat Jas hujan, menentengnya dan berlari tergopoh-gopoh menyusul kami. Hujan masih turun dengan lebatnya, membasahi bumi dan tubuh-tubuh kami. Kami melihat pohon Keladi dan pohon Pisang yang berdaun besar dan lebat. Kami memotong, mengambilnya, dan membuatnya menjadi payung kami walaupun sudah basah kuyub. Ritual ini selalu kami lakukan sebagai anak-anak kampung pada saat hujan lebat.
Sesampainya disekolah, kami langsung menujuh kelas kami masing-masing. Aku, Siti, Rohilah, Eko, Tini masuk ke kelas 4. Kami mendengar suara Pak Topo yang sedang mengajar Bahasa Indonesia. Kami ketakutan, saling dorong-dorongan, saling menunjuk siapa yang akan mengetuk pintu duluan. Akhirnya aku disuruh teman-teman dengan alasan aku anak murid kesayangan Pak Topo. Aku memberanikan diri mengetuk pintu kelas yang tertutup. Pintu ditutup untuk menghindari terpaan air hujan masuk ke kelas. Terus terang, tidak ada gunanya sama sekali karena air hujan akan tetap masuk lewat lubang-lubang atap yang bocor. Kami menampung tetesan-tetesan air hujan itu dengan kaleng-kaleng bekas Blueband yang kami kumpulkan bersama-sama. Lantai kelas kamipun menjadi kotor dan becek. Pak Topo selalu memberi satu kaleng Blueband untuk setiap anak muridnya. Kami bertanggung jawab membuang tampungan air hujan dikaleng Blueband masing-masing bila sudah penuh.
Pintu kelas dibuka. Kami berdiri berhimpit-himpitan, ketakutan melihat mata Pak Topo. "Ngape ikak telambat ni?Kawan-kawan ikak yeng lain e lah datang, dak telambat." (Mengapa kalian terlambat sekali? Kawan-kawan kalian yang lainnya sudah datang, tidak terlambat."), kata Pak Topo ke kami yang masih berdiri didepan pintu terguyur hujan. "Ujan, pak." (Hujan, Pak."), jawabku sambil menunduk takut. Tidak ada yang bisa kami jelaskan kepada Pak Topo karena dia lebih tahu apa yang terjadi dengan kami tanpa perlu kami jelaskan lebih lanjut. "Ujan bae dak cukup e? Ikak pasti maen ujan, liet dak bajuk-bajuk ikak ni lah berwarne kuning? Semue telapak tangan ikak keriput. Mate ikak mera semue e. Pastilah ikak maen ujan. Sampek dak sadar agik waktu e ke sekulah." (Hujan saja alasannya tidak cukup ya? Kalian pasti main hujan, lihatlah baju-baju kalian sudah berwarna kuning? Telapak tangan kalian keriput dan mata kalian semuanya merah. Pasti main hujan. Sampai tidak sadar lagi waktu ke sekolah."), kata pak Topo sambil menjewer kuping kami satu persatu. Kami masuk kelas, duduk di bangku masing-masing. Semua kawan-kawan sekelas kami tertawa kesenangan, mensyukuri kami kena jeweran pak Topo yang terkenal sakit sekali.
Pas jam 13.00 seluruh siswa-siswa sekolah pulang. Kami yang terlambat mendapat hukuman terakhir dari pak Topo. Hukuman itu menyapu kelas dan mengepel lantainya sampai bersih. Sesudah itu baru kami bisa pulang. Kawan-kawan kami sudah sampai dirumah masing-masing dan sudah makan. Sementara kami masih berjalan terseok-seok dijalan dan kelaparan.
Grace Siregar
Perupa
21 Oktober 2010
Biografi Grace Siregar:
Aku adalah anak kedua dari tujuh bersaudara keluarga Siregar dan Sihombing. Boleh dikata kami adalah keluarga Kristen yang tradisional dan terbuka. Nenek moyang bapakku berasal dari kampung Siregar, di Muara Siregar, Danau Toba. Tetapi Opung Doli kami, Waldemar Siregar, merantau ke Tarutung dan menikah dengan Opung Boru kami, Clara Situmeang. Opung Doli artinya Kakek dan Opung Boru artinya Nenek. Disitulah bapakku dilahirkan dan dibesarkan bersama-sama dengan ketiga saudara-saudaranya.
Tahun 1968, aku dilahirkan di Rumah Sakit Umum Tarutung. Waktu itu, aku sudah mempunyai seorang abang laki-laki. Karena situasi yang begitu sulit untuk mendapat pekerjaan teknik, akhirnya bapakku memutuskan untuk merantau, mencari pekerjaan ke Pulau Bangka. Bapakku meninggalkan mamakku dan kami berdua anak-anaknya yang masih kecil pergi demi masa depan yang lebih baik. Walaupun keluarga opungku memiliki tanah sawah yang luas, ternyata bapakku tidak mencintai menjadi petani tetapi mencintai pekerjaan teknik. Akhirnya, Bapakku berangkat dengan teman semarganya Siregar dengan naik kapal laut, Tampo Mas, dari Pelabuhan Belawan Medan, dengan uang seadanya.
Pulau Bangka yang memiliki biji-biji Timah terbanyak setelah Brazil, menjadi tujuan insinyur-insinyur muda dan anak-anak muda seperti bapakku untuk bisa bekerja di Perusahaan TTB (Tambang Timah Bangka). Setelah setahun di Bangka dan berhasil mendapat pekerjaan di TTB, akhirnya bapakku memutuskan untuk pulang ke Tarutung, menjemput kami sekeluarga, pindah ke Pulau Bangka.
Disinilah, di Pulau Bangka ini, aku dan saudara-saudaraku dibesarkan, bahkan adikku yang ke-empat sampai dengan adikku yang ke-tujuh lahir dan dibesarkan di tanah Melayu, Bangka ini. Bahasa Melayu Bangkapun menjadi bahasa nomor satu kami setelah bahasa Batak dan Indonesia.