Tuesday, June 07, 2011

Solo Exhibition Asylum/Suaka At St. John, Brighton Festival 2011


'Asylum/Suaka'

An Exhibition by Grace Siregar

St John the Baptist Church, Hove

7th-29th May 2011

Brighton Festival 2011

Link to Grace Siregar Asylum Documenter:http://www.youtube.com/watch?v=DFRKV8qDGd0

Link to the exhibition in a-n art magazine: http://www.a-n.co.uk/interface/whatson/single/1189661/1

http://www.bbc.co.uk/news/uk-england-sussex-12410512

This exhibition is Siregar's second solo show in the UK after years of showing her work in galleries and public spaces across her country of origin, Indonesia.

This exhibition is part of Brighton Festival 2011.

The exhibition explores the relationship between emotional turmoil and the tranquility that sanctuaries, or places of asylum, can offer - also the human capability to experience the greatest confusion and the deepest calm within one being, sometimes simultaneously.

"I want my work to be immediate and engaging but also to resonate into the future lives of those who experience it. In my current practice I use video, installation work, sculpture, painting and performance art. I try to establish a balance between head, heart and spirit."

6th May Private View, on 7pm

Performance Art presentation 'Suaka Jiwa'

This piece is a collaboration between Siregar and the local DJ, percussionist and African music event organisor, Ebou Touray from the Gambia.

Venue:

St. John The Baptist

Palmeira Square

Brighton-Hove, UK

E-mail:

tondi.medan@gmail.com

Grace Siregar
Hove, 7 Juni 2011

Monday, January 24, 2011

http://kabarmag.com/blog1/2009/01/16/moving-to-medan/

http://kabarmag.com/blog1/2009/01/16/moving-to-medan/

Wednesday, January 19, 2011

Budaya Akuntabilitas Demokrasi Masyarakat Batak Terhadap Usaha Memberi Gelar Kepada SBY Oleh T.B Silalahi

Kedatangan Presiden RI SBY ke Balige atas undangan T.B Silalahi untuk meresmikan Museum Batak menuai badai protes keras dari seluruh masyarakat Batak Di Indonesia.

(Balige adalah kota yang terletak di Tapanuli Utara, propinsi Sumatra Utara link http://maps.google.co.uk/maps?oe=utf-8&rls=org.mozilla%3Aen-GB%3Aofficial&client=firefox-a&q=balige%2C+sumatera+utara&um=1&ie=UTF-8&hq&hnear=Balige%2C+Indonesia&gl=uk&ei=pKg2TYD0GISohAfs4eTSAg&sa=X&oi=geocode_result&ct=title&resnum=1&ved=0CBkQ8gEwAA)

Pertama, berita hangat keluar untuk menganugrahkan gelar penghormatan kepada SBY sebagai Raja Batak, link http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/01/16/120714/Pemberian-Gelar-Raja-Batak-Untuk-SBY-Menuai-Protes.

Kedua, adalah pemberian marga Siregar dan Pohan link http://us.detiknews.com/read/2011/01/18/130402/1549116/10/ruhut-sby-siregar-simbol-pemimpin-besar?9911032

Jadi atau tidaknya penganugrahan Raja Batak dan pemberian marga Siregar kepada SBY dapat membuktikan akuntabilitas demokrasi masyarakat Batak pada umumnya yang sudah berlangsung dari sejak nenek moyang kita.

Selama ini, banyak sekali keputusan-keputusan yang diibuat oleh pejabat-pejabat papan atas tanpa mempertimbangkan masukan-masukan atau inspirasi dari rakyatnya. Kalaupun keputusan-keputusan yang dibuat itu diundangkan dan masyarakat protes, maka protes dan ketidaksetujuan masyarakat itu tidak akan pernah sampai ke telinga pejabat-pejabat atas tersebut karena staf-staf bawahan yang berada dilingkaran para pejabat atas ini tidak berani atau tidak akan pernah menyampaikan aspirasi masyarakat dengan jujur, langsung, tanpa difilter sama sekali.

Dengan adanya media internet, SMS, Email, facebook, Twitter dan seterusnya, komunikasi antara rakyat berjalan dengan lancar tanpa bisa dihentikan, komunikasi yang berjalan disaat peristiwa sedang terjadi, bukan dari hasil laporan koran-koran, media tv, radio, yang akan dibaca, didengar dan ditonton rakyat beberapa jam sebelumnya atau sehari setelahnya.

Rakyat memantau sendiri dan mengirimkan komunikasi pesat dari satu kelainnya, dari daerah satu ke lainnya, dari negara satu ke negara lainnya. Dan ini terjadi terhadap rencana-rencana pemberian gelar penghormatan Raja Batak dan marga Siregar kepada Presiden SBY oleh T.B Silalahi dengan didukung oleh Juru bicara Ruhut Sitompul. Masyarakat Batak protes, tidak setuju dan melakukan demonstrasi supaya usaha pemberian gelar kehormatan Raja Batak dan Siregar oleh T.B Silalahi dihentikan.

Suka atau tidak suka, reaksi protes masyarakat itu sampai ke telinga yang akan memberi dan yang akan menerima tanpa bisa di filter lagi, pun oleh seorang Presiden dan seorang Pejabat papan atas seperti T.B. Silalahi ini.

Disatu sisi, ada orang-orang Batak yang sinis terhadap reaksi masyarakat Batak ini. Ada yang bilang masyarakat Batak Bersumbu Pendek, ada yang bilang Masyarakat Batak terlalu emosi dan cepat marah, ada yang bilang seharusnya demonstrasi itu tidak perlu, ada yang bilang tidak setuju dengan reaksi demonstrasi itu.

Akhirnya penganugrahan Raja Batak dan pemberian marga Siregar dibatalkan. Peresmian Museum Batak diresmikan tanpa memberi anugrah penghormatan Raja Batak dan marga Siregar kepada SBY yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Akuntabilitas demokrasi masyarakat Batak itu akhirnya berhasil dengan adanya reaksi demonstrasi terbuka dari masyarakat Batak.

Inilah demokrasi yang sebenarnya. Bukan hanya rakyat dari suku Batak saja bisa belajar dari peristiwa ini tetapi rakyat Indonesia pada umumnya bisa memantau agar pejabat-pejabat atas tidak bisa bertindak seenaknya mengambil keputusan-keputusan yang tidak mengaspirasikan suara rakyat.

Rakyatpun kembali berkomunikasi langsung satu sama lainnya tanpa melalui "tim editor" melalui media internet, SMS, Email, facebook, Twitter dan seterusnya dengan menggunakan HP/Telepon genggam, Laptop, iPad dst, ditangan masing-masing, saat itu juga.

19 Januari 2011

Grace Siregar

Perupa

Thursday, January 13, 2011

Nelson Mandela Untuk Para Pemimpin dan Rakyat Indonesia (A Mandela For Indonesia)

by Grace Siregar on Saturday, 24 July 2010 at 10:32

Pada semester terakhir kelas 5 SD di West Hove Junior School, Rachel dan teman-teman sekelasnya membahas sejarah tentang negara Afrika Selatan dimana tahun ini Africa Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 yang berhasil. Rachel dan teman-teman sekelasnya didampingi oleh guru wali kelasnya Mrs.Abbot membahas Negara Africa Selatan dari segi alam dan kekayaannya, suku-sukunya, budaya-budayanya yang kaya dan berbeda-beda, sistem Apartheid dan perjuangan Nelson Mandela dan kawan-kawan melawan sistim Apartheid di Africa Selatan. Rachel benar-benar masuk kedalam mata pelajaran Africa Selatan dan mencari bahan-bahannya melalui internet dan buku-buku yg dipinjamkannya diperpustakaan yg bersebelahan dengan rumah kami.

Sewaktu kami sedang sarapan pagi barusan, bapaknya bertanya: "Apakah yang kau pelajari tentang Nelson Mandela?" Rachel diam sebentar berpikir. "Nelson Mandela seorang tokoh perdamaian yang membuat Apartheid berhenti," jelasnya dengan singkat.

"Betul. Sewaktu sistem Apartheid masih berlaku di Africa Selatan, masyarakat Africa Selatan keturunan Eropah berkulit putih punya daerah permukiman sendiri, begitu juga dengan masyarakat Africa Selatan berkulit hitam punya wilayah sendiri, masyarakat keturunan India dan keturunan-keturunan Africa Selatan dari hasil kawin campur dan seterusnya punya wilayah sendiri-sendiri. Tidak boleh campur."

"Pak,maak, selain Nelson Mandela ada pejuang yg lain namanya Walter Sisulu, sama dengan Mandela." Tambah ilmu pengetahuan saya :=). "Sewaktu Nelson Mandela keluar dari penjara, apakah Mandela menyuruh perang antara Africa berkulit hitam dan putih?" tanya bapaknya lagi. "Nggak, paak." jawab Rachel. "Kau tahu mengapa tidak?" "Karena Mandela cinta damai tadi," lanjut Rachel.

"Sewaktu Mandela keluar dari penjara, Mandela mengakui semua suku, ras, agama, budaya yang berbeda-beda didalam negaranya. Berbeda dengan Mugabe dari Zimbabwe dimana rakyat Zimbabwe keturunan hitam dimobilisasi untuk berperang dan mengusir rakyat Zimbabwe berkulit putih. Menurut Mandela itu salah. Perang tidak menyelesaikan masalah utk siapa saja. Makanya Afrika Selatan lebih maju dibandingkan dengan negara-negara dari Afrika lainnya. Semua rakyatnya hidup bersama dan bekerja keras membangun Afrika Selatan." Rachel mengiyakan: " Mandela menyebut negaranya Rainbow Nation, paak. Negara Pelangi yang berwarna-warni," kata Rachel menambahkan.

"Trus yg paling diingat adalah saat Mandela hadir di pembukaan pertandingan Rugby dimana dari dulu-dulunya sampai sekarang para pemain Rugby Afrika Selatan hanya dimainkan oleh pemain-pemain Afrika Selatan berkulit Putih. Mandela sampai memakai baju seragam nasional Rugby Springbok. Rakyat Afrika Selatan berkulit putih merasa diakui dan menjadi bagian dari kemajuan Negara Pelangi ini."

Saya terdiam, pikiran saya terarah kepada negaraku Indonesia yang memiliki kemiripan dengan Afrika Selatan baik dari kekayaan alamnya, suku-sukunya, budaya-budayanya dan agamanya yang berbeda-beda, yang memancarkan keunikan-keunikan yang memikat. Indonesia yang akhir-akhir ini mengisi berita dunia oleh kejadian pemboman oleh gerakan-gerakan fundamentalist yg jumlahnya sedikit, kejadian-kejadian tidak toleransi dari sekelompok orang, yang mulai mengganggu keharmonisan berkehidupan masyarakat Indonesia yang terkenal ramah tamah dan berbudi pekerti dari setiap suku-suku yang mendiami pulau-pulau dari ujung Sumatra, Sabang, sampai akhir perbatasan Papua, Marauke.

"Ada nggak maak tokoh Indonesia seperti Mandela?" tanya anak saya Rachel dengan tiba-tiba.

Pertanyaan anak saya ini bukan hanya ditujukan kepada saya saja tetapi juga ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia saat ini.

Hove, 24 Juli 2010

GUS DUR

GUS DUR

by Grace Siregar on Monday, 06 July 2009 at 16:50
Hampir tiga bulan kami di Inggris. Jalan kaki terus menikmati dan menemukan sudut2 kota Brighton & Hove. Hari ini kami baru menyaksikan Rachel bertanding membawa telur dgn sendok di Wish Park. Rachel juara satu, horrreeeeeeee!!! Hari ini sekolahnya merayakan hari olah raga, semua anak murid ambil bagian dalam perayaan ini. Alexander sengaja mengambil 1 hari cuti spy bs melihat Rachel bertanding. Kelas Rachel, kls 4 SD, memakai baju berwarna kuning. Meriah sekali.

Pulang dari Wish Park kami berjalan kaki ke apartemen kami. Pas menunggu di lampu merah, kami bertiga melihat mobil Yayasan Bluebird yg membawa orang tua2 cacat. "Coba banyak mobil2 seperti itu yg benar2 digunakan untuk menolong orang," kataku kpd Alexander dan dia setujuh. "Nggak percuma kita belanja di toko2 yayasan, nakku, karena duitnya digunakan untuk menolong orang," kataku kpd Rachel. Rachel jg mengangguk mengiyakan.

Aku jadi ingat Gus Dur, mantan presiden Indonesia yg humanis, pluralis, intelek, dan kebetulan cacat. Memang betul, selama Gus Dur menjad presiden Indonesia, dia memiliki kekurangan, seperti kita semua. Anehnya, sosok Gus Dur yang sering disinggung adalah tentang CACATnya.

Jujur saja, begitu banyak politisi2 di Indonesia ini (dari Sabang sampai Marauke) yang CACAT MORAL, CACAT INTELEKTUAL, tetapi karena cacatnya tdk kelihatan maka tidak pernah disinggung.

Cepat sembuh Gus Dur. PEACE!

Hove, 6 Juli 2009
Grace Siregar

Terdampar/Stranded Public Exhibition

by Grace Siregar on Wednesday, 02 December 2009 at 21:17

Size: 15M x 4 M, Media: Pebbles

Without an exhibition license, I opened this one woman show of public art today. The private view was attended by a young woman and her dog, Bobo.
Location: On the Border between Hove and Brighton Seafronts
Grace Siregar/Kali Seratus
Instalasi : Terdampar/Stranded
Media : Batu2 kerikil Diatas aspal/Pebbles on Tarmac
Size : 25M X 5M
Location: Hove Seafront
Exhibition Date : 2 Dec 2009 - Demolished
Detail....
Detail: Terdampar/Stranded

Exhibition At SIX

by Grace Siregar on Saturday, 28 November 2009 at 15:54

Some of the reviews etc that have already appeared about the group show I am taking part in here in Brighton:

http://www.aoh.org.uk/artists-open-houses/aoh-xmas-2009/details?venue_id=602

Also in Latest 7 Magazine: "Another artist [Grace Siregar] has smashed and reconstructed a bathtub that will be in our main room." said Judy Stevens, the festival Director.

One of the first reviews of my participation in my first group show in the UK:
http://www.aoh.org.uk/news/aoh-are-go
Grace Siregar a.k.a kali Seratus
Instalasi : "Losing It..." 2009, SIX, Open House, Brighton, UK 2009
Berbincang-bincang dengan Nicola Coleby, Kurator dr Brighton & Hove Museum And Art Gallery, di pembukaan pameran SIX, Open House, Brighton, UK, 2009

Cantik

Hari ini seperti biasanya aku mengantar Rachel kesekolah. Seperti biasa pula kami berjalan kaki ke dan dari sekolah. Selain bagus untuk berolah raga pagi, aku juga menikmati ngobroll "ngalor ngidul" dengan anakku ini. Obrolan tadi menyangkut pujian CANTIK secara FISIK saja.

Rachel semangkin besar dan semangkin punya pendapat sendiri, misalnya kemarin dia bilang samaku : "Mak, kok aku dibilang cantik terus oleh setiap orang yang jumpa dengan aku di Inggris ini?" tanya terheran-heran. Aku langsung berbalik bertanya "kau merasa cantik apa tidak, nakku?" Rachel tersenyum sambil menjawab dengan cara menganggukkan kepalanya dgn pasti. Terus aku tergelitik lagi untuk bertanya "ngalor" pada anakku itu. "Kok kau tanya gitu, nakku?" Rachel langsung menjelaskan bahwa dia jarang sekali mendapat pujian cantik selama di Indonesia. "Mak, kulitku kan tidak putih dan hidungku tdk mancung spt bapak, jadi menurut orang2 di Indonesia aku jelek, kecuali oleh keluarga2 kita dan teman2 mamak sama bapak." Aku langsung bertanya lebih "ngidul" lagi padanya "Dimana kau pernah dengar pendapat seperti itu?" Rachel menjawab dimana-mana, juga disekolah internasionalnya di Medan. Seperti biasa aku bertanya balik ke Rachel lagi: "Nak, mana yang lebih penting, cantik menurut orang atau cantik menurutmu?" Sambil tersenyum dia bilang "cantik menurutku sih mak."

Pulang kerumah sambil menikmati bunga-bunga mawar Inggris yang berwarna warni yang bermekaran disetiap halaman rumah yang kulalui, aku sempat tercenung sebentar ttg obrolan ngalor ngidul dengan anakku tadi. Memang betul apa yang dikatakan oleh anakku Rachel karena selama dia bersekolah di Medan, beberapa ibu yang terobsesi dengan warna kulit putih dan hidung mancung mempertanyakan (tanpa mempertimbangkan perasaannya) mengapa bentuk tubuh Rachel tdk bgt mirip sebagai anak hasil kawin campur antara Indonesia dan Inggris? Rachel yang berkulit hitam seperti aku dan juga berhidung pesek seperti aku seolah-olah dihakimi karena tidak memenuhi ukuran CANTIK dari ibu-ibu tadi. Aku langsung menjawab balik ke ibu-ibu tadi "Kalau begitu semua orang didunia ini yang berkulit coklat dan berhidung pesek, termasuk kau, jelek2 semua dong. Berarti hanya orang Eropah yang berkulit putih saja yang cantik. Pantas saja produk2 kulit untuk memutihkan, kalian buat jadi laku keras. Bangga dong dengan warna kulitmu ini dan mukamu ini, sempurna ciptaan Tuhan itu." Aku berlalu meninggalkan beberapa ibu tadi dan semenjak itu tidak pernah lagi ada yang berani mendekatiku dan mempertanyakan mengapa Rachel tdk sama bentuknya dengan anak-anak hasil campur yang lainnya. LEGAAAAH!


Hove, 3 Juni 2009
Grace Siregar


Bilingual (Dua Bahasa)

Sejak hari senin teman kami, Jane, seorang penari & koreografer profesional dari Devon tinggal dengan kami. Dia terlibat dengan proyek tari selama 4 hari di Brighton. Terakhir kali kami berjumpa dengannya pd saat kami ketemu di Bristol tahun 2004. Rachel sangat senang sekali karena dia belum pernah berjumpa dengan Jane. Dengan senang hati Rachel menyetujui untuk memberi kamar tidurnya untuk Jane selama dia menginap dengan kami. Rachel akan tidur di ruang atas yg berbentuk seperti sangkar burung yang besar dimana dia harus memanjat tangga untuk sampai ke kamarnya. Tentu Rachel senang sekali karena kami ijinkan dia tidur disana. Buatnya kamar itu seperti "dunia mimpi" dimana dia bisa berimajinasi dan punya ruang unik untuk dirinya sendiri. Mulailah beberapa barang yang sangat berarti dengan hidupnya, dia angkat keatas untuk ditaruh di kamar burung besarnya itu.

Seperti biasa pula, pada saat kami berkumpul bersama Jane, menikmati sarapan dan makan malam, kami bercerita tentang apa saja yang terjadi dengan hidup kami masing2 selama ini. Tentu dalam pembicaraan itu kami berbicara dalam bahasa Inggris dan tanpa sadar pula pada saat aku, Alexander, dan Rachel saling berkomentar kami langsung berputar haluan berbicara dalam bahasa Indonesia dan langsung berbalik berbahasa Inggris pada saat kembali berbicara dengan Jane. Jane terkagum-kagum dengan ketidaksadaran "berputar haluan" kami bertiga dari berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia yang tdk dibuat-buat ini. Jane yang juga fasih berbahasa Perancis dan Inggris ini memuji Rachel dengan bilingual-nya.

Tadi pagi kami berjalan kaki menujuh kesekolahnya, Rachel ingat akan kekaguman Jane dan dua orang guru kelasnya, Mrs. Willis & Mrs.Hill tentang kemampuannya berbahasa Inggris & berbahasa Indonesia. "Mak, mamak tahu nggak Mrs.Willis bilang sama kami kalau orang bisa berbicara lebih dari satu bahasa, orang itu pasti pintar," jelas Rachel sambil melompat-lompatkan kakinya bergantian. "Akhirnya kami disuruh Mrs.Willis angkat tangan siapa yang bisa berbahasa dua bahasa dengan sempurna, mak. Aku angkat tangan!" Seperti biasa, aku balik bertanya ke anakku lagi: "Jadi bangga nggak kau dengan bahasa Indonesiamu, nakku?" Rachel langsung menjawab "Iya, maak, bangga aku." Sesudah itu Rachel berlari mengejar temannya Emily yang membawa anjingnya dengan mamaknya yang berjalan 500 meter didepan kami.

Mengarah pulang kerumah aku tersenyum-senyum simpul dengan obrolan ngalor ngidul dengan anakku tadi. Tidak sia-sia usaha kami sebagai orangtua untuk menanamkan bagaimana bangga dan pentingnya berbahasa Indonesia dengan fasih yang sepenting berbahasa Inggris. Sekarang aku dan Alexander memutar balikkan peraturan berbahasa dirumah. Kalau dulu tinggal di Indonesia, kami wajib berbahasa Inggris satu sama lainnya dirumah. Sekarang kami tinggal di Inggris, kami wajib berbahasa Indonesia satu sama lainnya di rumah. Adikku Martha Siregar yang tinggal di Jakarta juga berjanji akan mengirimkan buku-buku terutama cerita anak-anak dalam bahasa Indonesia ke Inggris.

Aku yakin, dimasa-masa yang akan datang Rachel akan memetik hasil yang manis dengan kebangaannya dan kelihaiannya sebagai anak bilingual yang fasih berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris.


Hove, 4 Juni 2009
Grace Siregar

Aku Dan Rachel Meletus

Kejadian ini sebenarnya terjadi kemarin sore, saat aku menjemput Rachel ke sekolahnya di West Hove Junior. Sampai dihalaman sekolah aku melihat Rachel sedang bermain kejar-kejaran dengan dua orang temannya, Georgia dan Chloe D. Saat Rachel melihatku, wajahnya tiba-tiba berubah tidak senang. Biasanya dia akan berlari memelukku sambil menciumku bertubi-tubi sambil ngomong "mak, tadi aku rindu dengan mamak." o, oooo...kataku dalam hati. "yok naaak, pulaang," panggilku pada Rachel. Rachel berjalan mendekat.

Saat keluar dari halaman sekolah, aku tanya apa yang terjadi hari ini padanya hingga dunianya tiba-tiba berawan hitam disertai hujan lebat dan petir yang saling sambar menyambar. "Maaak, baju seragamku ini ternyata buat anak-anak yang lebih kecil." teriaknya agak keras sambil mulai menangis. Sebagai mamak yang teritorialnya mulai terganggu aku mulai menjelaskan bahwa seragam sekolah untuk musim panas adalah baju kotak-kotak biru dan pink. "Kok kau malu? Emangnya ada teguran dari guru wali kelasmu ttg bajumu hari ini?" tanyaku agak tersinggung. "Nggak ada! Tapi semua teman2 sekelasku tanya kok aku pakai baju seragam pink iniiiii....," sambar Rachel menjawab ulang. Sambil berjalan menyusuri jalan2 berkelok menujuh rumah, Aku menjelaskan pada Rachel bahwa aku tidak perduli apa kata teman-teman sekelasnya tentang baju seragam pink yang dipakai Rachel dan dia harus memakainya bergantian dengan baju birunya. "Kau harus punya pendapat naak, masak gara-gara teman-temanmu tidak mau pakai baju pink karena mereka malu dibilang anak-anak kecil, kau harus nurut? Kau pertahankan dong pendapatmu?" kataku jengkel. "Pokoknya aku nggak mau pakai lagi, maak...Aku maluuu!" teriaknya tertahan sambil bercucuran air mata. "Nggak malu kau nangis sejalan-jalan dilihat orang?" kataku sambil melihat mukanya yg basah. Rachel menghapuskan air matanya dan berhenti sesegukkan pada saat orang-orang berpas-pasan dengan kami, sesudah mereka lewat Rachel mulai menangis tertahan lagi. Sebenarnya aku iba dengan anakku dan ingin memeluknya tapi jalan keluar belum muncul untuk membahas masalah baju seragam musim panas yang berwarna PINK ini. Kami berdua MELETUS! "Kau pikir mamak beli baju seragam pinkmu ini pakai daun, Che?" Aku tetap memaksanya, perintah dari orantua dan dia harus NURUT. "Aku mau pakai baju seragam biru yang sama dengan kawan2 sekelasku," teriaknya keras kepala. Untuk menghindar jadi tontonan orang-orang yang melihat "adengan saling membalas" dengan memakai "bahasa planet mars" yang tidak dikenal orang-orang di Hove, akhirnya kami berjalan berjarak 4 meter dari masing-masing dan saling diam hingga sampai di rumah.

Jalan satu-satunya adalah menelpon sekolah Rachel. "Begini saja, mamak akan telepon bapakmu untuk menelpon sekolahmu sekarang tentang peraturan baju biru dan pink ini. kalau sekolahmu bilang baju biru dan pink bisa dipakai oleh semua murid tanpa terkecuali, kau harus memakainya dan siap diejek teman2mu. Tetapi kalau sekolah bilang baju pink hanya untuk dipakai kelas yg lebih kecil, maka mamak akan tukar dgn warna biru di toko kemarin." Rachel setujuh, tidak ada jalan lain. Kami berdua sama2 keras kepala mempertahankan pendapat kami masing-masing. Aku menelpon dan menjelaskan kepada Alexander untuk menelpon sekolahnya dan menelpon kembali tentang hasilnya.

Hasilnya, ternyata Rachel benar. Aku merasa bersalah ttg keras kepalaku pada anakku ini hingga membuatnya patah hati dan menangis. Aku panggil dia dan aku minta maaf. "Mau nggak kau memaafkan mamakmu ini, nakku?" Rachel memelukku kuat sambil mengangguk. Alexander menelpon kembali dan ingin tahu hasil dari PERANG tadi. Dia pun legah mendengar kami sudah berbaikan, karena pada saat kedua orang berhidung pesek yang paling berarti dalam hidupnya ini "berperang" yang paling menderita dan tidak tahan adalah suamiku. Alexander bilang bahwa untuk anak-anak seusia Rachel, teman-teman sekolahnya adalah dunia nomor satu buatnya dan dia tidak ingin lain sendiri dari teman2nya sekelas. Dia juga menceritakan ttg pengalamannya yang sama dengan adiknya Rowan.

Kesimpulan nomor 43 adalah tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua yang sempurna, kita belajar terus untuk menjadi orangtua...

Hove, 5 Juni 2009
Grace Siregar

DAMAI BESERTA KITA, AS-SALAMU ALAYKUM, SYALOM, DAME MA DI HAMU

Hari minggu kemarin kami bertiga pergi kebaktian ke gereja St.Andrews. Hari itu adalah hari yang sangat spesial buat kami bertiga karena Rachel terpilih masuk ke paduan suara anak-anak sekolah minggu dan minggu ini adalah hari pertama dia ikut tampil di paduan suara kebaktian. Aku pun sangat bersemangat membawa kamera digitalku untuk memfoto Rachel saat tampil. Biasanya kami bertiga selalu duduk dibangku agak belakang dan kali ini kami sengaja duduk di bangku urutan nomor tiga dari depan untuk memudahkanku memfoto Rachel. Supaya jangan ketahuan memfoto di kebaktian ini, aku matikan blitz otomatis kameraku (jadi maaf kalau foto2nya kurang jelas). Sebelum acara dimulai, aku memfoto Rachel & kali ini (tdk seperti biasanya) Rachel tidak senang difoto, alasannya mamak-mamak lain yang anak2nya ikut dalam koor tidak satupun yg memfoto anak-anak mereka.

Koor anak-anak duduk didepan chapel kecil di belakang altar sebelah kanan pendeta berhotbah. Kebaktian minggu ini adalah kebaktian gabungan antara anak-anak sekolah minggu dan orangtua sehingga suasana gereja yg biasanya syahdu menjadi sangat ribut. Anak-anak yang lebih kecil sibuk berjalan kedepan altar mendekati pendeta sambil memandang "culun" ke pdt.Jonathan yang memakai jubahnya shg berbeda dengan siapapun digereja ini. Tak ada satu pun yang terganggu, pun para jemaat, para majelis dan pdt.Jonathan. Aku tersenyum senang dengan suasana hiruk pikuk ini.

Acara kebaktian dibuka dengan koor anak-anak karya raja reggae Bob Marley "One Love." Aku membuat beberapa jepretan secara rahasia, takut ketahuan. Seluruh jemaaat yang kebanyakan didominasi oleh orangtua-orangtua muda yang warna kulitnya berwarna-warni menikmati suguhan koor anak-anak tersebut. Kulihat wajah Rachel senang. Dua orang ibu berkulit hitam dari Afrika Barat yang duduk sebangku dengan kami, kulirik menikmati One Love si Marley. Satu persatu acara kebaktian berlalu, pdt.Jonatahan yg berdiri didepan mengundang seluruh anak-anak untuk duduk didepannya. Khotbah dibuka dengan sapaan dalam tiga bahasa yang mempunyai arti yang sama yaitu Peace be with you (Inggris), As-Salamu Alaykum (Arab) dan Syalom (Yahudi). "Waah, kurang bahasa Batak ni "Dame Ma Di Hamu," protesku dalam hati. Mungkin ibu-ibu Afrika Barat disamping kami juga memprotes karena sapaan bahasanya tidak disebut :-). Semua jemaat menjawab sapaan Peace Be With You dengan Peace be With You kembali, sapaan syalom dijawab syalom kembali, nah pada saat sapaan As-Salamu Alaykum disebut seluruh jemaat bingung bagaimana menjawabnya. Dengan spontan aku menjawab " Alaykum Salaaam" sendirian. Seluruh jemaat melihat kearahku dan Pdt Jonathan senang mendengarnya dan meminta jemaat menjawab dengan "Alaykum Salam." Wuiiihhh aku bangga setengah mati, sampai hidungku kembang kempis dan kedua telingaku bergerak-gerak, tentu tidak ada yang tahu. Juga tidak ada yang tahu bahwa sejak aku lahir dan dibesarkan di pulau Bangka & kuliah di Palembang, hidupku sangat berwarna...dan teman-teman baikku dari sejak aku kecil hingga dewasa ini beraneka ragam pula termasuk teman-temanku Melayu Bangka, teman-teman Cina bangka, Jawa, Palembang, Batak, Padang, Madura, Ambon, Ternate, sampai meluas pertemananku ke Eropah, Afrika, Amerika, Timur Tengah, Israel, Palestina dan seterusnya dan seterusnya; yang juga memiliki latar belakang budaya dan agama yang berbeda pula, termasuk sahabat2ku yg tdk pny agama & sahabat2 muslimku yang memberi pengaruh terhadap jalan hidupku sampai saat ini. Pdt.Jonatahan memberi contoh kepada seluruh jemaat di gereja St.Andrews, sama halnya yang dilakukan oleh Presiden Barack Obama yang dalam pidatonya menyapa komunitas muslim di Cairo, Mesir, "As-Salamu Alaykum" dr warga negara muslim Amerika, dan dijawab kembali "Alaykum Salam" oleh para hadirin, yang artinya Damai Beserta Dengan Kita, Dame Ma Di Hamu, Syalom...dst. Dalam hotbah kebaktian itu, pdt. Jonathan mengajak seluruh jemaat untuk berdoa bersama secara khusus agar keturunan-keturunan sekandung Abraham/Ibrahim ini baik Yahudi, Kristen, Islam memiliki Peace Be With You, yang bukan hanya diucapkan dibibir sj tetapi dilakukan didalam berkehidupan sehari-hari, bernegara, dan berbangsa.

Acara kebaktian yang diakhiri dengan Perjamuan Kudus ini dilakukan bersama-sama dengan anak-anak. Kami yang berjalan kedepan membentuk barisan antrian panjang untuk menerima sepotong roti tanpa ragi dan seteguk anggur merah dari Pdt Jonatahan. Aku dan Alexander melihat anak-anak yang berjalan didepan kami dengan membawa mainan masing2 spt boneka, mobil2n dan robot2 untuk dapat berkat dari pendeta. Aku dan Alexander tersenyum pada saat melihat wajah-wajah legah anak-anak melihat pdt Jonathan memberkati mainan masing2. Pikiranku langsung menerawang ke gerejaku HKBP Medan, "Apakah pendeta-pendeta di HKBP akan melakukan hal yang sama kepada mainan2 anak-anak yang dibawa anak-anak kedepan altar untuk diberkati?"

Tadi pagi saat mengantar Rachel kesekolah, Rachel bertanya tentang SORGA. "Kok kau tanyak seperti itu, nakku?" tanyaku ingin tahu dan terus terang aku agak risih menjawabnya. "Iya mak, kan kemarin pendeta sapa kita dalam banyak bahasa, jadi aku pingin tahu?" ungkap Rachel jujur. Aku jelaskan pada Rachel bahwa jumlah agama didunia ini berjuta-juta jumlahnya, setiap suku dimuka bumi ini punya agama dan kepercayaan masing-masing. Aku juga menjelaskan kepada anakku bahwa di Indonesia sekali pun, selain beberapa agama yang diakui oleh UUD yang jumlahnya bs dihitung dengan jari, masyarakat tradisionil Indonesia memiliki beratus-ratus kepercayaan yang sampai sekarang masih dipercayai. "Jadi siapa mak yang punya sorga itu?" tanya Rachel lagi sambil melompat2 kecil. "Menurut mamak ni ya, mamak percaya bahwa sorga itu diisi oleh setiap jenis manusia dari berbagai agama dan kepercayaan dimuka bumi ini bahkan oleh mahluk2 yang ada di jagad raya ini. Bosan mamak kalau sorga itu hanya diisi oleh orang2 kristen saja," jelasku gamblang. "Iya sih mak, kasian sama bibik Kasoti dan om Jetin kalo hanya kita yg punya sorga. Aku sayang sama bibik Kasoti dan Om Jetin, mak." kata Rachel senang. Bibik Kasoti dan Jetin adalah dua orang keturunan Tamil "Hindu" Medan yang bekerja dirumah selama kami tinggal di Medan. "Dan kita semua ini ciptaan sang Maha Kuasa yang sebutan terhadapNya bermacam-macam pulak menurut setiap manusia dimuka bumi ini, nakku," jelasku lagi. Aku tdk tahu apakah Rachel mengerti atau tidak, plg tidak aku sdh menjelaskannya. "Tapi nak, jangan salah, banyak kali orang-orang yang tidak setujuh dengan pendapat mamakmu ini, termasuk teman-teman mamak yg seiman, apalagi yg tdk seiman. Yang penting bagi mamak, kau bergaul dengan siapa saja tanpa lihat agamanya apa, warna kulitnya apa, budayanya apa. Yang penting kau sayang dgn kawan2mu dan kawan2mu sayang sama kau."

Setelah mengantar Rachel kesekolah, pikiranku menerawang ke anakku Rachel yang baru berusia 8 tahun ini. Aku hanya menginginkan agar anakku tidak memiliki pola berpikir yang sempit, terkotak-kotak, dan merasa "benar" sendiri walaupun dunia ini penuh dengan pola-pola yang seperti itu. Aku ingin Rachel bisa menikmati keberaneka ragaman isi dunia ini tanpa memiliki rasa "menghakimi" terhadap orang-orang yang berbeda dengannya kelak dan punya kawan2 yang beraneka ragam pulak sama seperti bapak dan mamaknya ini.

Hove, 8 Juni 2009
Grace Siregar

Rachel Dan Laut

Laut, tempat yang paling berarti buatku. Aku dibesarkan di Pulau Bangka yang dikelilingi oleh laut. Bapakku, P.Siregar diterima kerja di bagian Eksplorasi Geologi PT.Timah Bangka. Berangkatlah bapakku menjemput mamakku, abangku, dan aku yg pd saat itu masih bayi ke kampungnya, Pintu Bosi, di Tarutung untuk pindah ke Pulau Bangka. Rumah pertama kami di Sungailiat, Kompleks Timah Bangka "AKE" yang berbentuk rumah2 bedeng setengah beton dan kayu. Sejak itu deburan ombak, pantai dan laut menjadi bagian dari hidupku yang tidak bisa dipisahkan.

Setelah menikah dengan Alexander, tinggal di Indonesia selama 11 tahun, punya anak si Rachel, kami berpindah-pindah terus mengikuti Alexander bertugas sesuai dengan misi NGO/LSM yang kebanyakan di daerah2 Indonesia Timur. Kami merasa beruntung bisa dapat hidup diwilayah terindah Indonesia ini dengan kekayaan laut dan pulau2nya yg unik. Rachel kecil juga dibesarkan berdampingan dengan laut di Maluku Utara seperti di Ternate, Tobelo dan tempat2 atau pulau2 yg tdk bs aku sebutkan satu persatu disini. Mungkin saat itu dia belum tahu betapa besar pengaruhnya terhadap hidupnya. Setiap kami berhubungan dengan laut spt berenang, ber-snorkling melihat dunia bawah laut yang indah dengan berbagai jenis tanaman laut serta ikan2 tropis yg berbeda bentuk, ukuran, dan warnanya, bahkan melihat ikan2 hiu bersirip hitam dan putih mengejar mangsa ikan2 yg lebih kecil, hiu2 itu tdk berbahaya kepada manusia. Kami juga berkemah di pantai2 atau pulau2 kecil yg tak bertuan. Hampir setiap saat kami melihat ikan lumba2 yg tiba-tiba muncul disamping kapal kami. Aku merasa Rachel diperkaya oleh alam dan budaya Maluku Utara. Rachel yang berteman dekat dengan anak-anak kampung di Maluku Utara dan bersekolah disana, membuatnya fasih berbicara bahasa Maluku Utara dengan logatnya yg kental. Bahasa Maluku Utara menjadi bahasa ibu pertama buat lidah Si Rachel, bukan bahasa Inggris ataupun Indonesia.

Kulitnya yang halus legam dengan perawakan "anak seribu pulau" ini akhirnya membentuk karakter Rachel menjadi periang dan suka bergaul. Teman-temannya banyak, dari anak-anak yg seusia dgnnya sampai kpd yang tua-tua. Nama kami pun tidak dikenal disana sbg Grace atau Alexander tetapi dipanggil "Cece pe mama" untukku atau "Cece pe papa" untuk Alexander. Tiga tahun berlalu, Alexander ditugaskan ke pemulihan bencana Tsunami di Meulaboh dan Banda Aceh. Kami pun harus pindah dari Maluku Utara ke Medan, ibukota propinsi para buyut-buyutku-ompung2ku.

Saat kepindahan kami ke Medan dan Alexander bertugas di Aceh, kami putuskan utk menyekolahkan Rachel disekolah internasional. Kali ini, Rachel berhadapan lain lagi dengan suasana pertemanan yg lebih "kota" dibandingkan dgn Tobelo yg terletak diujung pulau Halmahera, Maluku Utara. Setelah beberapa minggu, Rachel mulai mengeluh ttg suasana berkawan dikelasnya, terutama dengan teman-temannya yg berkulit putih pucat, manja, selalu dikawal dgn suster2 atau supir2nya (walaupun sudah besar). "mama, tong susa bekawang deng kita pe tamang2 dikelas, mama. Dong tara suka pa kita. " ("Maak, aku susah kali berkawan dgn teman2ku dikelas, mereka tidak suka denganku"), katanya dalam bahasa Maluku Utara kental dan dgn muka yg plg sedih yg pernah aku lihat. "Kong ngana biki apa ampe ngana pe tamang2 tara mau bekawang pa ngana? Ngana baku pukul deng dorang kah?" ( "Kenapa, nakku? Apa kau berkelahi dgn kawan2mu hingga teman2mu tdk mau berteman?"), tanyaku untuk tdk terbawa kedalam suasana mendungnya. "Tarada mama, tong tara nakal. " ("Nggak mak, aku tidak nakal."), katanya. "Jadi, ngana biki apa?" tanyaku lagi. Rachel terdiam sejenak. Aku pun diam menunggu jwbnnya. "Dorang bilang, torang kong ana kampong dan kita pe kuli itam, mama" (Karena aku dibilang anak kampung dan berkulit hitam, maak)." Aku sontak dan terkejut. Anak-anak yang usianya baru berapa jari jumlahnya sudah menentukan batas2 untuk bisa berteman sesuai dengan "kelas" yg setara dgn mereka.

Aku mulai berhotbah panjang lebar tentang betapa beruntungnya anakku Si Rachel untuk bisa hidup begitu dekat dgn alam, masyarakat, dan budaya "kampung" di Maluku Utara sana selama bertahun-tahun- yang tidak pernah kawan-kawan sekelasnya rasakan. Bagaimana murni persahabatannya dengan sahabat2nya dari "seribu pulau." "Kawan-kawanmu dikelas itu, nakku, hanya berkunjung saja ketempat2 wisata, terutama ketempat2 yg bisa mamak tebak, tetapi mereka tidak pernah hidup berdampingan, bersinggungan dengan masyarakat dan budaya tempat dimana mereka kunjungi. Termasuk menjadi bagian dr kota Medan ini, kecuali... tempat2 yang "mewah" menurut penilaian mrk atau mereka hanya berteman dgn mereka2 saja, nak. Bayangkan betapa kecilnya dunia mereka. Sedangkan kau, nakku, kau memiliki begitu byk teman2 yg tulus bersahabat dgnmu dan teman2mu berbeda-beda pula. Teman2mu datang dari semua latar belakang & budaya di Indonesia ini. Kalaupun teman2mu pergi berlibur, mrk akan tinggal beberapa hari di hotel, tdk ada kontak dgn masyarakat setempat, terus mrk pulang dgn orangtua2nya, dengan supir2nya, pembantu2nya, dan suster2nya. Kau pikir bapak dan mamak mau membesarkan kau seperti itu?" Rachel diam mendengarkan penjelasanku dan kulihat otaknya mulai mengolah pengalaman2nya sebagai anak seribu pulau. "Jadi kalau teman2mu tdk mau berkawan dgnmu karena kau dianggap anak kampung dan legam, kau justru harus kasihan pd mereka." Aku tahu hal itu akan susah buatnya tetapi aku percaya kepada kemampuan Rachel untuk bs menghadapi sistem "apartheid" yang diciptakan dikelasnya. "Bertemanlah dgn teman yg mau berteman dgnmu, berteman dgn siapa saja yg baik, nakku," pintaku lagi.

Rachel mengiyakan dan aku tahu kalau dia bilang iya itu berarti iya. Setelah berbicara dgn wali kelasnya yg membenarkan apa yg dirasakan Rachel, akhirnya Rachel bs mengambil sikap untuk berteman dengan teman yang baik. Aku legah, kejadian pertama dilingkup kecil ini akan menjadi pengalaman penting bg Rachel utk menghadapi dunia yang luas dan sgt kompleks isinya dimana "kemanjaan" akan membuat anak-anak kita menjadi anak yg cacat secara sosial dan mengalami kesulitan dalam bergaul.

Dengan sengaja pula kami mengirim Rachel kesekolah dengan mobil jemputan sekolah bulanan yg tidak ber-AC, kadang2 mogok, dan Rachel bisa membaur dgn teman2nya. Bepergian didalam kota Medan pun, kami berdua sengaja naik angkot, becak, omprengan dll agar anakku ini bs menjd bagian dari kota Medan dan bukan dipisahkan dari kotanya. Mobil dan Taxi hanya kami pergunakan pada saat2 tertentu saja. Sesering mungkin kami pulang kekampung bapak dan mamakku, Tanah Batak, tinggal serta bereksplorasi bersama agar Rachel dekat dengan saudara-saudaranya yg tinggal dikampung, dekat dgn bahasa & budaya mamaknya dimana setengah darahnya adalah darah batak.

Sekarang kami tinggal di Brighton-Hove yang berhadapan dengan laut dimana rohnya sgt penting buat kami bertiga terutama buat Rachel. Rachel beradaptasi bagus dengan kota dan negara bapaknya. "Mak, besok kami ada beberapa tugas dari Mrs.Hill & Mrs.Willis, salah satunya membuat patung dipantai dengan bahan-bahannya dari pantai. Harus difoto tugasnya kalo sudah selesai mak. Jadi pulang sekolah kita langsung kepantai ya, maak?" pinta anakku kemarin pagi. Aku menyetujuinya. Sewaktu menjemputnya kemarin, aku membawakan kamera digitalku, 2 buah apel untuk menganjal perut kami berdua dan kami langsung ke pantai Hove. Aku menikmati proses Rachel membuat patungnya dan menikmati ekspresinya berpikir secara spontan. Pasir digali, batu ditumpukkan dan seterusnya dan seterusnya... sampai karyanya selesai. Udara laut sore yg dingin tidak kuhiraukankan lagi, deburan ombak dan pekikan burung2 seagull menjadi bagian dari berproses Rachel dalam membuat patungnya. Aku menikmati suasana sore kemarin dengan anakku dan tidak lupa aku membuat foto karyanya sebelum kami pulang kerumah.

Hove, 10 Juni 2009
Grace Siregar

Its finished! She happy....

Menyesal

Tadi sore, saat ingin menjemput Rachel ke sekolahnya, tiba2 hujan rintik-rintik ala Inggris turun disertai tiupan angin yg agak kencang dari laut. Aku memakai mantel hujan biruku yg berpenutup kepala dan membawa serta mantel hujan Rachel. Sampai disekolah aku melihat Rachel sdg berbicara dgn teman sekelasnya Georgia. Setelah menyapa Georgia, kami pun berjalan kaki pulang.

Rachel bercerita bahwa dalam dua hari ini kelasnya dikunjungi oleh dua penulis cerita anak2 Inggris, yaitu; Cathy Watson yg menulis SANDIES IN THE BEACH HUTS dan Gwyneth Rees yg menulis THE MUM HUNT. Rachel bercerita panjang lebar ttg apa-apa saja yang menginspirasi kedua penulis buku tersebut. Aku pun senang mendengarnya. Sangkin kagumnya, Rachel meminta tandatangan kedua penulis itu. "Maak, nanti setelah makan malam aku mau ke perpustakaan untuk meminjam semua buku2 mereka, ya maak?" pinta Rachel. Aku bilang besok saja setelah pulang dari sekolah. Rachel setujuh. Rachel sudah menjadi anggota perpustakaan Hove yg hny berjarak 2 rumah dari apartemen kami.

Ceritapun berlanjut. Tadi siang dia minta tolong agar staf administrasi bs menelpon ke kantor bapaknya. Rachel ingin berbicara serius ttg sesuatu. Sadar bahwa bapaknya pergi rapat ke London, Rachel pun minta ijin untuk bisa menelpon ke hpnya. Aku menyimak jalan cerita Rachel. Biasanya dlm hal urusan sekolah aku selalu dilibatkan. Kali ini tidak. "Maak, tadi ada kegiatan tukar2n buku di sekolah kami. Jadi aku telpon bapak untuk tanya bisa nggak aku ikut. Dan bapak bilang boleh, mak," ungkap anakku senang. Aku tanya buku-buku apa saja dari koleksinya yg dia ikut tukarkan disekolah tadi. "Aku tukarkan bukuku MOOMINSUMMER MADNESS & MOOMINMIDWINTER Tove Jansen, mak," katanya melihat kearahku. Aku bisa melihat ada gerakan gelisah dari matanya, takut aku tdk setujuh dgn pilihannya. "Yaa Tuhaaan, mudah2n Rachel tukarkan buku yg sekualitas buku punyanya," doaku dalam hati. Aku khawatir.

Kami sampai dirumah, terkejut, ternyata Alexander, sudah sampai duluan dirumah. "Hallloooo," sapa Alexander dari ruang tamu. "Sudah pulang rupanya kau, bang," kataku senang. Rachel pun senang melihat bapaknya sudah di rumah. Ternyata rapatnya di London selesai jam duaan, pulang dgn kereta api ke Hove hny memakan waktu 60 menit sj. Rachel langsung membuka tasnya dan menunjukkan ketiga buku yg dia tukarkan tadi ke bapaknya. Aku melihat sebersit rasa kaget di wajah Alexander pada saat melihat buku2 itu, hanya dia menutupi untuk tdk mengecewakan perasaan Rachel yg gembira dgn pilihannya.

Sewaktu Rachel ganti baju seragam di kamarnya, Alexander berbicara ttg betapa kecewa perasaannya melihat kualitas pilihan buku2 Rachel tadi. "Aku tidak mau dia sedih kalau aku bilang bhw kualitas buku2 yg dia ambil tidak sebanding dgn kualitas buku2 miliknya," ungkapnya. "Buku-buku apa saja rupanya yg dia ambil, bang ?" tanyaku. "Ituuu, buku2 princess2n dan buku High School Musical, tdk bermutu sama sekali . Dalam 6 bulan sdh dilupakan orang. Sedangkan buku-buku dia adalah buku cerita anak-anak klasik, yang khusus aku pesan dari Amazon... yg dikirim ke alamat Ompungnya di Bristol dan Ompungnya kirim ke Medan." Aku pun merasa sedih mendengarnya. "Aku akan bicara dgn dia nanti. Aku mau menjelaskan padanya," janji Alexander.

Setelah makan malam, Rachel bertugas mencuci piring, sedangkan aku membereskan meja makan dan Alexander membuat teh. Setelah teh dibuat, Alexander berbaring di sofa merah kami. Diam sebentar. "Rachel, bisa tidak, nanti kalau ada acara tukar-tukaran buku lagi, ketiga buku yg kau pilih tadi kau tukarkan kembali dgn buku-buku yg bermutu?" tanya Alexander. Aku diam. "Emangnya kenapa pak? Bapak tidak suka?" tanya Rachel sambil mencuci piring. "Bapak mengerti bahwa sekarang ini kau masih suka membaca buku2 princess2n dan High School Musical. Tidak ada yg salah. Tapi bapak sedih sekali kau tukarkan buku2mu yg bermutu dgn buku2 spt itu." Aku dan Rachel diam. "Nang, ada dua jenis buku yaitu buku pertama dgn mutu "sampah" dimana sekali-kali kau bs baca, yang dalam beberapa bulan sudah dibuang dan dilupakan orang." Rachel mendengarkan lebih seksama. "Buku satunya adalah buku cerita anak klasik, yg biasanya diwariskan dari orangtua kepada anak-anaknya, dan anak-anaknya mewariskan kepada anak-anaknya lagi. Terus begitu, dari generasi ke generasi. Misalnya buku Alice In Wonderland, Winnie The Pooh, Wind In The Willows dan buku karangan Tove Jansen MOOMINTROLL-mu itu," kata Alexander lembut tp tegas. Aku mulai melihat penyesalan di muka anak kami.

Tiba-tiba Rachel berjalan kearah bapaknya dan rebah didada bapaknya, menangis, menyesal. Alexander memeluk anaknya dan aku terdiam melihat kedua bapak anak itu berpelukan. SEDIH! Hening, kecuali suara Rachel menangis. "Paaak, aku nyesal tukar buku2ku itu. Aku sayang sama buku2ku..." kata Rachel terus terisak. Kami berdua tahu perasaannya. Bagi Rachel, setiap benda, termasuk buku-bukunya, adalah bagian terpenting dr hidupnya. Ini salah satu akibat dari hidup kami yg berpindah-pindah terus mengikuti tugas bapaknya. Buku MOOMINSUMMER MADNESS & MOOMINMIDWINTER adalah buku yg mengikat kenangan hidup Rachel selama 4 tahun di Medan, SUMUT. Dan kami berdua tahu bahwa dia benar-benar patah hati dgn menukarkan kedua buku itu tadi. Dari pengalaman kami dgn anak kami ini, setiap kami pindah ke tempat baru, kami selalu melibatkan Rachel dalam memutuskan barang2 atau buku2 mana yang Rachel akan berikan ke teman-temannya.

Sebelum pergi tidur, Rachel masih menangis memikirkan kedua buku-bukunya. Dia berjanji akan menukarkan ketiga buku2 itu diacara tukar menukar buku selanjutnya. Sambil melihat muka anakku, aku berkata dalam hati "biarlah kejadian ini menjd pelajaran berharga baginya dan dia harus siap menerima konsekuensi kehilangan buku2nya itu." Kami berdua tdk bs berbuat banyak. Setelah keluar dari kamar tidurnya, Alexander berbisik kpdku bwh dia akan memesan kembali kedua buku itu sbg hadiah ulang tahunnya yg ke-9 di bulan Agustus ini.

Hove, 11 Juni 2009
Grace Siregar

Tidak Terkabul

Akhir pekan kemarin kami isi dengan kegiatan2 yg menyenangkan. Jumat malam, setelah Rachel tidur kami berdua nonton drama seri Camomile Lawn sampai habis dari Channel 4. Sabtu pagi, Rachel memasak pancake dgn diolesi madu & jeruk untuk sarapan kami berdua ditempat tidur. "Paaak, kalo aku besar nanti, aku ingin punya restoran dan hotel. Jadi bapak & mamak bisa nginap dan makan gratis ditempatku," kata Rachel senang setelah mengantarkan pesanan seteko teh English Breakfast pesanan bapaknya ke kamar kami. "Oooh, mantap kali itu inang," balas bapaknya dengan bangga pula.

Hari itu, aku pergunakan tenaga Rachel untuk membantu aku memasak. Akhir pekan ini kami tinggal seharian dirumah; malas2n, makan, tidur, ngobrol, bermain, baca buku, nonton, makan lagi, tidur lagi, pokoknya tinggal dirumah seharian.

Hari minggu, kami pergi ke gereja St.Andrew. Aku sengaja pakai baju kebayaku, bersarung tenunan bugis, berselendang ulos manik-manik keemas2an dan bersanggul kecil. Aku pikir musim panas ini adalah musim yg tepat untukku berpakaian tradisional tanpa harus pakai jaket dingin yg tebal2 dan berat! Dengan kebayaku, aku juga ingin ikut ambil bagian merayakan musim panas bersama-sama dgn alam yg bercuaca cerah. Pakaian tradisional yg kupakai ini mendapat perhatian dari jemaat lain. Biasanya mereka terbiasa disodorkan dgn pakaian tradisional India atau Afrika, kali ini beda. Terus terang, aku senang!

Menjelang makan malam, setelah puas berjalan2 ke Taman Hove yang besar dan Rachel puas bermain di area mainan anak-anak yg super lengkap dan gratis (pula!) tiba-tiba Rachel minta untuk bisa kepantai melihat festival MIDSUMMER. Festival ini merayaan hari yg paling lama matahari terbit di musim panas ini disetiap tgl 21 Juni, sampai pada hitungan mundur dimana matahari hanya sebentar tinggal pd setiap tgl 21 Desember. Festival pra-Kristen ini banyak pula dihadiri oleh anggota-anggota gereja se Brighton&Hove.

Dalam seminggu ini, Alexander bersemangat mengingatkan kami untuk bisa melihat bentuk festival Midsummer ini. Jadi bersemangatlah anak kami Si Rachel ini untuk hadir ke acara festival itu yg dimulai pkl 20.00 dan selesai pd pukul 24.00. Sebagai informasi, disini, saat musim panas, mataharinya doyan kali tinggal berlama-lama. Gelap dimulai jam 10 malam. Jam 6-8malam masih seperti jam 2 siang waktu Indonesia.

Makan malam selesai dan Rachel langsung pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian Snow White-nya dan bersanggul kecil pink kesayangannya. Karena kekenyangan dicampur dgn rasa capek yang asik dari libur di taman Hove seharian tadi, akhirnya membuat aku mengantuk dan malas pergi. Aku minta supaya Alexander pergi dengan borunya, yg sayangnya, dia malah bilang tidak seru kalau aku tidak ikut. Lha?! Akhirnya kami berdua ogah pergi. Rachel kecewa berat dan menangis sejadi-jadinya, seperti tangis yg ditinggal pergi orangtuanya. Kami pun membiarkannya menangis sepuas-puasnya.

Rachel berhenti menangis, kami berdua menjumpainya yg sedang duduk dgn malasnya dengan muka sedih dan sembab. Menjelaskan padanya bahwa ada kalanya permintaan tidak terkabul dan antara permintaan dan janji tdk bisa bertemu dititik yg diinginkan, dan siapa saja harus siap menerima keadaan itu. "Kau inang, kalau mendengar kau menangis tadi, orang-orang pikir ada salah satu dari kita yg sakit keras atau meninggal, atau kau mengalami trauma yg berat sekali," kata Alexander pada borunya. "Tapi kalau bapak jelaskan pd siapapun bahwa kau menangis begitu menyayat hati hanya karena kau tdk bisa lihat festival, orang2 akan bilang ooooh alangkah bahagianya masa kanak-kanak anak itu," kata Alexander menjelaskan. Kami berdua memeluknya bergantian, walaupun masih bersedih hati, dia mau disuruh gosok gigi dan berganti bajunya untuk tidur. Aku mengabulkan permintaannya untuk menemani Rachel tidur sambil menepuk2 pantatnya, persis sama sewaktu dia masih bayi dulu.


Hove, 22 Juni 2009
Grace Siregar

Kartika Winahyu

Kartika Winahyu adalah salah satu sahabatku yang terawal, dimulai saat kami sama-sama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya angkatan 1988. Dibandingkan dengan sahabat-sahabatku dari masa kecilku dan sahabat2ku saat ini, Kartika Winahyu mendapat tempat yg khusus didalam pertemananku sampai sekarang. Seberapa pun kecilnya kami pernah bertemu setelah kami selesai menamatkan kuliah, bekerja, berkarya, menikah, punya keturunan, dan nantinya akan bercucu bercicit pula...

Sahabatku, Kartika Winahyu, memiliki nilai-nilai seorang teman yang tidak berubah sampai sekarang. Perawakannya yg kecil, manis, setia, dan punya pendapat yg jelas terhadap apa saja yang menyangkut tentang kehidupan disekitarnya, tidak akan pernah menyerah terhadap sesuatu yg menghadang didepannya. Kau akan bekerja keras dengan diselingi humor2mu yg segar, mendampingi kau dalam menghadapi perkara-perkara besar dan kecil.

Aku masih ingat pada awal-awal pertemanan kita, yg diselengi oleh letupan2 kecil didalamnya, tetapi pada saat masalah "berbagi", seorang Kartika Winahyu tidak akan berpikir sedetikpun untuk menolong teman2 tanpa pandang bulu. Bermurah hati adalah salah satu yang kuat tertanam didalam hatimu....Bermimpi adalah bagian dari persahabatanku dengan Kartika Winahyu, tentu saja diawali dengan segelas Coca Cola yg sangat kami agungkan saat itu..minuman terlezat saat itu...kalau ada penemu coca cola duduk disamping kami, pasti akan kami jatuh cintai (dgn syarat dia masih muda dan ganteng tentunya)...kami minum coca cola pada saat upah tulisan kami muncul di koran lokal Sriwijaya Post...dunia sempurna...Berselisih paham bukan berarti tidak pernah. PERNAH! Biasanya akan kami diamkan atau menunggu siapa yang datang mengalah duluan...bergantian kami mengalah- tergantung ukuran & takaran permasalahannya. Kami masih muda saat itu...ego tentunya bermain diantara roh2 kemudaan kami...dilalui dengan keluguan yg tdk dibuat-buat...

Berdoa dan memberi waktu untuk bersyukur...untuk seorang Kartika Winahyu tidak ada kata ABSEN! Kalau ada ucapan dupa syukur yg kami berdua serahkan didepan altarNya bersama-sama, asapku pasti naik keatas dgn berkelok-kelok sedangkan asap sembahan Kartika Winahyu akan naik keatas dan lurus...Itulah yang memperkuat rasa persahabatanku dengan Kartika Winahyu...

Sekarang kau menghadapi saat-saat yang terpenting dari hidupmu sahabat, mengdampingi mamimu memerangi kanker. Pasti kau akan ketakutan "kehilangan" seperti tergambar jelas pada saat papimu pergi, kau menangis siang dan malam dikamar kosmu, aku khawatir dan tidak bs berbuat apa-apa saat itu...kecuali diam disana, mendengarkan kepedihanmu, sahabat! Kekuatanmu sendiri tidak akan cukup, tetapi kasih sayangmu terhadap mamimu adalah obat yang termanjur untuk menghiburnya...Rasa sayang yang murni hadir untuk mamimu, yang memperkuat mamimu untuk berjuang bersama-sama. Iman percayamu adalah benteng2 yang kokoh yang akan memperkuat peperangan ini. Harapan dan doa-doamu yang tulus diterbangkan seperti noktah-noktah cat yang diserap oleh kertas dengan sempurna oleh Sang pencipta Khalik dan Bumi...Setiap tetes air matamu mempunyai nilai yg sempurna untuk permohonanmu...Berserah diri dan memberi segala keresahan ini didalam tanganNya memperkuatkanmu...Belum tentu aku sendiri akan kuat menghadapi apa yang kau hadapi sekarang ini...

Bukankah doa dan pengharapan yang ada didalam pikiran kita adalah yang memperkuat kita?

Hove, 22 Juni 2009
Grace Siregar

Masuk Penjara

Kemarin udara sangat cerah sekali. Aku melihat birunya laut menggodaku untuk berjalan kaki kesana. Aku langsung menelpon teman baru kami, Kat, yang baru pindah dari London. "Kat, yuk piknik ke pantai ntar sore?" ajakku bersemangat tanpa menanyakan kabarnya duluan. Kat mengiyakan ajakanku. Kami berjanji akan berjumpa pada pukul 16.00 di tempat bermain anak-anak, Hove Lagoon.

Aku pergi menjemput Rachel ke sekolah lebih awal. Aku membawa tas piknikku yg aku isi dengan alas duduk dari wool, setermos teh English Breakfast, sekotak biskuit dan sekilo Apel merah renyah. Cukuplah untuk menganjal perut selama kami berpiknik ria.

Aku melihat Rachel sudah keluar dari kelasnya dan sedang bermain kejar-kejaran dengan salah satu temannya. Kami langsung berjalan kaki menujuh pantai Hove. Rachel senang sekali sewaktu kubilang kami akan piknik dengan Kat dan kedua anak kembarnya yang lucu, Sam & Olivia. Kami semua menikmati piknik dadakan ini. Kami saling bercerita tentang apa-apa saja yang telah kami alami selama 2 minggu tidak berjumpa; termasuk bergosip tentang restoran vegan yg akan dibuka beberapa hari lagi oleh mantan istri Paul McCartney, Heather Mills, yang berdekatan dengan Hove Lagoon. "Aku yakin restoran ini tidak akan bertahan lama," kataku ke Kat. Kat mengiyakan dengan alasan bahwa para orangtua yg membawa anak-anak mereka bermain kesini lebih tertarik untuk membeli jajanan-jajanan lokal seperti Kentang dan Ikan goreng ala Inggris, biskuit, atau minuman-minuman ringan seperti coca cola, juice, dll. Bukan makanan non-daging-dagingan yg kemungkinan besar harganya akan mahal sekali.

Rachel menikmati bermain bersama-sama dengan Sam dan Olivia di kolam renang Paddling Pool seukuran dengkul dalamnya. Setelah dua jam lebih menikmati cuaca cerah ini, akhirnya kami pulang ke rumah. "Yuk nakku, bentar lagi bapak pulang." kataku sambil menunggu Rachel berganti baju di Kamar Mandi disamping Paddling Pool itu.

Makan malam kali ini, aku sengaja memasak makanan spesial Batak yaitu Saksang daging babi dimana bumbu-bumbu segarnya seperti Lengkuas, Jahe, Serai, Andaliman dan bumbu-bumbu lainnya aku belikan di toko Uni Thai yang berdekatan dengan rumah kami. Alexander & Rachel senang sekali. Mereka berdua menyiapkan peralatan makan bersama-sama. Setelah mengucap doa syukur, tiba-tiba Rachel menanyakan tentang PENJARA kepada bapaknya. Kami berdua terkejut! Biasanya obrolan makan bersama kami berkisar kegiatan kami masing-masing selama satu hari ini. "Kenapa rupanya, nang? Kok tentang penjara?" tanya Alexander ingin tahu. Akupun memasang kedua kupingku dgn serius takut kehilangan informasi penting dari mulut anak kami ini.

"Tadi ada teman sekelas kami, si Chloe D, nangis, pak. Kami terkejut. Kok tiba-tiba dia nangis didalam kelas pas waktu keluar main," jelas Rachel. Aku menanyakan apakah aku kenal dengan Chloe teman yang dimaksudkannya tadi. "Bapak dan mamak tidak kenal dia. Bukan Chloe yang main kerumah kita tempo hari, maak." kata Rachel menjelaskan. "Pas kami tanyakan kenapa dia nangis, si Chloe bilang bapaknya masuk penjara," kata Rachel sambil melihat kemuka kami berdua. "Trus, kalian bagaimana dengan Chloe?" tanya Alexander. "Aku diam saja, pak. Aku nggak ngerti mau bilang apa ke Chloe." Rachel bilang ada beberapa teman-teman mereka yg tidak mau bermain dengan Chloe setelah mendengar pengakuan Chloe tentang bapaknya.

"Inaaaang, bapak mau kau tetap berteman baik dengan Chloe. Kalau bapak Chloe masuk penjara itu bukan karena salah Chloe." ungkap Alexander dgn serius. "Bapak bisa bayangkan bagaimana perasaan Chloe, pasti sedih sekali." kata Alexander sambil melihat ke muka Rachel. Aku mengangguk tanda setuju. "Mungkin saja bapaknya si Chloe itu orang yang baik, hanya saja saat itu dia berbuat bodoh." kata Alexander dengan tenang. Kami bertiga menyantap makanan kami dengan diam. "Tapi pak, bapaknya si Chloe diijinkan keluar masuk penjara beberapa kali untuk lihat Cloe," kata Rachel lagi. "Berarti hukuman bapaknya tidak berat kalau ada waktu-waktu tertentu dia bisa keluar penjara," kataku menimpalinya.

"Satu permintaan bapak dan mamak ke kau, naang. Kalau kau berantam dengan si Chloe, jangan pernah kau pakai bapaknya yg dipenjara untuk membalas si Chloe. Kalau kau berantam dengannya, kau bilang saja apa alasan yg menyebabkan kau tidak suka dengannya. Jangan sekali-kali kau pakai soal bapaknya untuk memojokkan si Chloe. Bisa?" Aku melihat Rachel mengganggukkan kepalanya tanda dia setuju. "Selain jahat sekali, juga bukan urusan kita untuk menghakimi si Chloe," kataku menambahkan.

Kami bertiga menghabiskan makan malam kami. Pada saat Rachel mencuci piring, aku melihat muka si Rachel sedang berpikir tentang temannya si Chloe. Percakapan serius tadi bukan saja mengajarkan si Rachel untuk tetap berteman baik dengan Si Chloe; apapun kondisi yang temannya sedang hadapi. Percakapan tadi juga membuka pikiran kami untuk belajar bersikap dewasa tentang segala hal, yang kita alami dalam bersinggungan dengan kehidupan kita masing-masing, dengan lingkungan kita, pertemanan kita, sekarang dan dimasa-masa yang akan datang.

Hove, 25 Juni 2009

Grace Siregar

Tertib

Aku dan anakku jalan kaki lewat George street; yaitu jalan yang dipenuhi degan kafe-kafe terbuka menghadap matahari. Kami harus melewati lampu merah. Biasanya, kami akn berjalan terus saat tdk ada kendaraan, walaupun lampu merah sedang menyala. Utk menghormati seorang ibu yang sedang mengajarkan anak laki-lakinya yg berusia kira-kira 3 tahun utk patuh pada lalu lintas, akhirnya kami berdua bersama-sama degan mereka menunggu lampu hijau menyalah. Ini adalah dukungan diam kami utk siibu kepada anaknya.

Hove, 2 Juli 2009
Grace Siregar

Gagal Diantara Anggota Keluarga Yang Sukses

Sebelum kami bangun sarapan pagi, aku dan lakiku Alexander golek-golekan dengan malas ditempat tidur sambil melihat laut yg biru didepan jendela kamar tidur kami. Tampak burung2 seagull yang terbang berseliweran sambil berteriak2 parau disela waktu malas2n kami. "Bang, kalau ada senapan angin seperti di Medan, sudah aku tembak semua burung jelek tukang teriak2 ini," kataku jengkel.

Kami berdua ngobrol ngalor ngidul dari A ke Z dan kembali lagi ke A. Ada satu cerita lakiku yg sangat menarik untuk kutulis. "Ada staffku yang baru namanya Luke yang aku hormati karena dia jujur dgn dirinya sendiri," buka Alexander. "Bikin apa rupanya dia, bang?" tanyaku ingin tahu. "Kemarin Luke bercerita ke aku bahwa dia sedih telah menyakiti kedua hati opungnya. Orangtua Luke sdh bercerai lama. Dia hidup serumah dgn kedua opungnya yang sangat sayang kepadanya. Luke tidak tinggal serumah dgn kedua orangtuanya yg telah menikah dgn pasangan masing2. Luke juga tdk dekat dgn kakak perempuanya yang tinggal di Bath." Aku mendengarkan. "Emang Luke tinggal dimana, bang?" tanyaku. "Di Lewes, kampung yg kita kunjungi kemarin, kau sampai tergila2 karena kau suka disana." jawab Alexander.

"Luke bilang dia sangat sedih karena tidak bekerja selama ini. Hanya main skater, mabuk dan tdk menyelesaikan A LEVEL-nya. Dia sedih karena dia merasa telah menyakiti perasaan opungnya. Rasa gagal itu yang ingin dibayarnya." kata Alexander "Keluarga2 dekat Luke itu orang2 yg berhasil di dunia bisnis. Opung laki2nya sampai skrg msh bekerja dan punya bisnis kontraktor. Bapaknya jg pny bisnis kontraktor. Sedangkan ibunya baru membuka usaha Pub di Bath, bersama2 dengan kakak perempuanya," Aku diam menyimak. "Untuk membayar rasa bersalahnya, Luke bekerja serabutan, apa saja, yg penting bs bekerja. Sampai dia bekerja dengan kita," lanjut Alexander.

"Aku bilang sama Luke, yg baru berusia 19 tahun, bahwa masih banyak waktu dan tahun2 yg panjang didepannya untuk berhasil. Sekarang ini dia sudah lulus & dpt ijazah NVQ yg disejajarkan dengan A LEVEL sambil bekerja. Luke itu bagus sekali. Opungnya sampai bangga. Dia bilang begitu sama aku." Aku menikmati cerita Alexander.

Aku jd ingat kota Lewes yang kecil dan cantik, dimana hanya 2 supermarket besar disana; Tesco & Waitrose, pabrik bir lokal HARVEYS, dan beberapa kafe sebagai tempat untuk bekerja. Anak-anak muda seperti Luke, yg tdk lulus A LEVEL, akan mengalami kesulitan untuk diterima bekerja .

"Luke yang bermata biru, pirang, bertato dan berpenampilan skater sampai merasa bersalah besar kpd opungnya, jd BERUBAH. Aku angkat jempol," kata Alexander. "Semangat2 spt itu yang selalu aku kagumi dari siapa saja yang aku temui dalam hidup ini."

"Aku saja bilang sama Luke bahwa aku baru tahu apa yg aku mau kerjakan pd saat aku berusia 30 tahun. Mungkin banyak orang yg sudah tahu sejak kecil apa yg mau dia lakukan dan pokus kesana mengejarnya sampai berhasil. Tapi hidup kita juga jadi berwarna dengan ketidaktahuan kita ttg apa yg akan kita maui sampai usia dewasa. Sehingga kita punya berbagai pengalaman hidup yg akhirnya memperkaya hidup kita selanjutnya," kata Alexander sambil mengajak aku bangun untuk sarapan pancake buatan boru kami.

Hove, 4 Juli 2009

Grace Siregar

Wednesday, January 12, 2011

Main Hujan

Hari ini cuaca berawan gelap dan mendung. Pasti akan hujan lebat. "Jangan lupak ikak bawa mantel ujan TTB bapak tu, ok?" (Jangan lupa kalian bawa mantel hujan TTB bapak itu, ya?"), kata mamak kami sebelum kami pergi. TTB kepanjangan dari Tambang Timah Bangka. Kami hanya punya satu cadangan mantel hujan TTB dirumah. Satunya lagi dibawa oleh bapak kami pergi mengukur lahan timah dipedalaman hutan. Satu jas hujan dibagi dengan abang dan kedua adik perempuanku, tidaklah cukup. Tidak masalah, pasti ada jalan keluar kalau hujan turun. Aku sudah melihat Tini, Rohillah, Sinar, Siti, Udin, Eko, Abdul dan Lehet menunggu kami dihalaman rumah. "Maak, kami giii, oook!" (Maak, kami pergi, yaaa!"), teriak kami berempat serentak.

Kami pergi berjalan kaki bergerombol kesekolah SD Negeri 07 yang terletak diantara kampung Simpang dan kampung Jelutung. Perjalanan ini memakan waktu 40 menit s/d 1 jam. Jalan utama yang menghubungkan kompleks Tambang Timah Bangka (TTB) Ake dengan ketiga kampung tetangga kami yaitu kampung Simpang Rumbiak, kampung Simpang dan kampung Jelutung ini berupa tanah kuning, tidak beraspal, berlobang-lobang dan tidak rata. Seluruh anak-anak di Kompleks TTB Ake bersekolah di SD Negeri 07, yaitu sekolah satu-satunya didaerah kami. SD Negeri 07 ini adalah sekolah dasar Inpres atau Intruksi Presiden yang terbuat dari kayu bercat kapur kasar, beratap seng berlobang-lobang, berlantai semen kasar dan berlobang-lobang pula. Sekolah kami terdiri dari enam kelas yaitu kelas 1 sampai dengan kelas 6. Guru wali kelasku bernama Pak Topo, guru Jawa yang berbadan kecil dan kurus. Bahasa Indonesia dan bahasa Melayunya pun berlogat Jawa kental. Sehingga lucu didengar. Pak Topo adalah satu-satunya guru favoritku selama aku bersekolah di SD Negeri 07 ini. Walaupun pak Topo bisa jadi sangat galak sekali pada saat kami, murid-muridnya, tidak bisa mengerjakan Matematika, malas mengerjakan PR atau terlambat datang kesekolah. Tetap saja, bagiku Pak Topo adalah guru kesayanganku.

Waktu itu tidak semua anak bisa bersekolah dengan memakai seragam Merah Putih, bertopi, berdasi dan bersepatu. Kebanyakan orantua-orangtua kami kurang mampu, terutama teman-teman Melayu dan Cina kami yang tinggal di sekitar kampung Jelutung. Beberapa teman-teman sekelasku pergi kesekolah dengan berpakaian rumah, kadang bajunya tidak berkancing atau celana pendeknya ditambal sulam karena robek atau berlobang. Ada beberapa teman Cina kami yang datang bersekolah dengan hanya bersandal jepit atau bertelanjang kaki. Kami beruntung punya mamak yang pintar menjahit sehingga kami, kakak beradik, selalu punya seragam sekolah. Kami juga mempunyai sepatu hitam butut yang sama dengan kawan-kawan Melayu dan Cina kami lainnya. Sepatu sekolah butut kami ini selalu dijahit berkali-kali kalau depanya menganga, sehingga terlihat tali-tali jahitan sepatunya yang tumpang tindih. Atau kaki kami semangkin besar dan ukuran sepatu kami (sepertinya) semangkin mengecil. Kalau jempol kaki belum keluar dari sepatu, maka sepatu itu masih layak dipakai. Belum bisa mendapat sepatu sekolah baru. Itupun ditambah dengan satu syarat lagi yaitu nilai sekolah kami harus bagus, bila perlu juara dikelas masing-masing.

Dipertengahan jalan menujuh sekolah, awan semangkin hitam dan bergumul-gumul. Kami semuanya tahu, dalam hitungan detik, hujan lebat akan turun. Abangku sudah memakai jas hujan TTB warna hijau miliki bapak kami. Kami berempat akan berlindung didalam jas hujan yang bawahnya lebar sekali. Begitu juga dengan kawan-kawan kami yang punya jas hujan lainnya. Bagi yang tidak punya jas hujan hijau, maka berlarianlah semuanya mendahului kami sebelum hujan turun. Tentu antara kecepatan hujan dan kecepatan lari kawan-kawan kami itu tidak imbang. Hujan turun dengan lebatnya, disertai dengan petir yang saling sambar menyambar. Teman-teman yang berlari duluan tadi akhirnya berlindung dibawah pohon Nangka, Pohon Seruk dan pohon Cempedak yang banyak tumbuh disepanjang jalan. Kam,i kakak beradik berjalan perlahan-lahan, bersama-sama dalam satu jas hujan hijau, mirip dengan Keong. "Kurase kite ge harus betedo dibawah pohon, ok?" (Kurasa kitapun harus berteduh dibawah pohon, ya?"), teriakku kepada abang dan kedua adik perempuanku. Mereka bertiga mengangguk tanda setujuh. Lama kelamaan, terpaan air hujan mulai membasahi sepatu dan rok sekolah kami. Kami melihat gerombolan Udin, Eko, Abdul, Lehet, Rohillah, Tini, Siti dan Sinar sudah berdiri dan berjongkok dibawah pohon Cempedak sambil tangan mereka terlipat, bertekuk didada.

Hujan tak segera berhenti, kami sudah terlambat kesekolah. Pelajaran sudah dimulai. "Pasti pak Topo mara kek kite krena kite lum sampai-sampailah ke sekulah e!" ("Pasti pak Topo akan marah sama kita karena kita belum sampai juga kesekolah!"), teriak Eko tiba-tiba. Kami semuanya mengangguk, meringkuk kedinginan. Kami melihat aliran air hujan berwarna kuning bercampur dengan tanah kuning, mengalir deras menujuh kedataran lebih rendah, ke jalan Simpang Rumbiak dan Kolong Bijur. Daun-daun rimbun pohon Cempedak pun tidak mampu menahan derasnya tetesan-tetesan air hujan sehingga mulai membasahi Tini, Rohillah, Sinar, Siti, Udin, Eko, Abdul dan Lehet. "Yooo, kesinilah ikak betedo kek kami. Kelak ikak basa semuen e!" (Yuk, kesinilah kalian semuanya berteduh dengan kami! Nanti kalian basah semuanya!"), ajakku sambil melebarkan jas hujan kami. Aku, Abang dan kedua adik perempuanku merapat tubuh kami sehingga ada tempat untuk teman-teman berteduh, walaupun tidak sempurna. Hujan belum juga berhenti. Kami mulai khawatir.

Sudah satu jam kami menunggu, dibawah jas hujan bapak kami, dibawah pohon Cempedak. Tidak ada satu kendaraan pun yang lewat, kalau tidak kami bisa minta menumpang naik. Lobang-lobang jalan yang besar sudah terisi dengan air hujan kuning. Jujur saja, kami semuanya ingin bermain hujan. Tidak ada yang mau memulainya. Masih segan. Aku tidak tahan, aku keluar dari jas hujan kami, berlari ke lobang-lobang yang berisi air, meloncat dari satu lubang ke lubang yang lainnya. Aku mendengar abang dan kedua adik perempuanku berteriak supaya aku tidak main hujan. Teriakan mereka tidak aku perdulikan. Dari belakang kulihat Udin dan Toni menyemprot air dari lubang ke arahku, kena! Aku membalas balik semprotan mereka. Kami tertawa kesenangan. Lama kelamaan abangku, kedua adik perempuanku dan seluruh kawanku bergabung, mmain hujan, main semprot-semprotan, berlari, menghindar tendangan semprotan air atau membalas tendangan semprotan. Kami berteriak kesenangan, berjoget, sambil memandang keatas, melihat awan-awan gelap yang menumpahkan butir-butir hujan. Aku membuka mulutku, menampung tetesan-tetesan air hujan dan menelannya, aaaaaah... sedaaaaaaaaaaaap! "Ooooiiii! Berenti duluk. Cube muke ikak ngadep ke langit tuh, bukak mulut-mulut ikak, tampung aik e sampai penuh trus ikak telen aik hujan e, seger e...!" ("Oooooiii! Berhentilah dulu. Coba muka kalian menghadap ke langit dan buka mulut-mulut kalian, tampung airnya sampai penuh trus kalian telan air hujannya, enak sekali...!") kataku kepada semuanya. Kami melakukannya serentak, melihat ke langit sambil membuka mulut-mulut kami, menampung airnya sampai penuh dan menelan air hujan yang segar dan nikmat. Tidak banyak, tapi cukuplah.

Setelah itu, abangku, aku, Udin, dan Rohilah dan Tini, masuk dan duduk diselokan jalan sebelah kiri, yang dialiri oleh arus air hujan deras mengarah ke Kolong Bijur dibawah sana. Selokan dalam bahasa Melayu disebut Bandar. Kami semuanya duduk rapi segaris, seperti kereta api, sambil menikmati aliran air hujan yang deras melewati pantat-pantat kami sehingga basah kuyub. Kami tertawa kesenangan, mengajak yang lainnya untuk melakukan yang sama di bandar sebelah kanan. Abdul, Siti, Lehet, Sinar dan kedua adik perempuanku mengikuti perbuatan kami, duduk segaris sambil menikmati aliran deras air hujan yang menerjang dan membasahi pantat-pantat mereka. "Ikak jangan kencing celana, ok? Kelak kami yang dibawa ni bau pesing e?" ("Kalian jangan kencing celana ya? Ntar kami yang dibawah kalian ini akan bau kencing lho?"), pinta Udin yang duduk pas didepanku. Sudah terlambat, sebelum Udin berbicara aku sudah kencing celana duluan, tidak tahan karena dinginnya aliran air hujan itu. Kencing panas dan bau pesingnya mengenai Udin, Rohilah dan Tini. "Ka, kencing celanak ok? Ngape ade aik panas becampur bauk pesing ni?" (Kau kencing celana ya? Mengapa ada air panas becampur bau pesing ini?"), toleh Udin kebelakang sambil melihat kearahku. Aku terdiam, tidak bisa berdusta!

Aku mengiyakan sambil tertawa tertahan. Tiba-tiba semuanya bubar, naik keatas dan berdiri ditepi bandar. Udin, Rohilah dan Tini merasa terganggu dan jengkel melihatku. Kawan-kawan lainnya tertawa terpingkal-pingkal ketika mendengar aku kencing celana, mengenai Udin, Rohilah dan Tini. Mereka bertiga segera tidur terlentang di bandar, berbilas dan mengharap aliran air hujan akan membersihkan mereka bertiga dari bau air kencingku. Kami semuanya berjongkok, melihat ke bandar dan menonton mereka membalik-balikkan badan. Setelah bersih dari bau air kencingku, kami melanjutkan main semprot-semprotan, berkejar-kejaran, berteriak-teriak kesenangan, sampai baju-baju seragam putih kami berubah menjadi kuning.

Hujan masih turun, kami masih bermain hujan bersama-sama, basah kuyub. Kami melupakan sekolah kami. Tiba-tiba dari jalan setapak Simpang Rumbiak, Asuk Ahiung muncul, bersepeda, berjas hujan dan melihat kearah kami. Asuk Ahiung berhenti dan berteriak: "Ikak dak gi sekolah, ok? Awas kelak ikak dimarah kek pak Topo, kek urangtue-urangtue ikak! Lum kelak e ikak demem pulik kerna maen ujan!" (Kalian tidak sekolah, ya?" Awas ntar kalian dimarahi oleh Pak Topo dan orangtua-orangtua kalian semuanya. Belum nantinya kalian demam karena main hujan!"). Kami semuanya tersentak. Tersadarkan!

"Aaaoook, Suk! Kami nek gi lah ni! Lah jam berape, suk?" (Iya, pak. Kami mau pergilah ini! Sudah jam berapa, pak?") teriakku tiba-tiba. Asuk Ahiung melihat jamnya. "Jam 10.00! lah telambet igak ikak ke sekolah. Yo, larilah cepet!" (Jam 10.00! Kalian sudah terlambat ke sekolah! Ayo. cepat lari!"), seru asuk Ahiung sambil melanjutkan bersepeda menujuh kampung Simpang.

Kami berlari kebawah pohon Cempedak. Mengambil tas-tas sekolah kami yang kami simpan didalam jas hujan. Abangku melipat Jas hujan, menentengnya dan berlari tergopoh-gopoh menyusul kami. Hujan masih turun dengan lebatnya, membasahi bumi dan tubuh-tubuh kami. Kami melihat pohon Keladi dan pohon Pisang yang berdaun besar dan lebat. Kami memotong, mengambilnya, dan membuatnya menjadi payung kami walaupun sudah basah kuyub. Ritual ini selalu kami lakukan sebagai anak-anak kampung pada saat hujan lebat.

Sesampainya disekolah, kami langsung menujuh kelas kami masing-masing. Aku, Siti, Rohilah, Eko, Tini masuk ke kelas 4. Kami mendengar suara Pak Topo yang sedang mengajar Bahasa Indonesia. Kami ketakutan, saling dorong-dorongan, saling menunjuk siapa yang akan mengetuk pintu duluan. Akhirnya aku disuruh teman-teman dengan alasan aku anak murid kesayangan Pak Topo. Aku memberanikan diri mengetuk pintu kelas yang tertutup. Pintu ditutup untuk menghindari terpaan air hujan masuk ke kelas. Terus terang, tidak ada gunanya sama sekali karena air hujan akan tetap masuk lewat lubang-lubang atap yang bocor. Kami menampung tetesan-tetesan air hujan itu dengan kaleng-kaleng bekas Blueband yang kami kumpulkan bersama-sama. Lantai kelas kamipun menjadi kotor dan becek. Pak Topo selalu memberi satu kaleng Blueband untuk setiap anak muridnya. Kami bertanggung jawab membuang tampungan air hujan dikaleng Blueband masing-masing bila sudah penuh.

Pintu kelas dibuka. Kami berdiri berhimpit-himpitan, ketakutan melihat mata Pak Topo. "Ngape ikak telambat ni?Kawan-kawan ikak yeng lain e lah datang, dak telambat." (Mengapa kalian terlambat sekali? Kawan-kawan kalian yang lainnya sudah datang, tidak terlambat."), kata Pak Topo ke kami yang masih berdiri didepan pintu terguyur hujan. "Ujan, pak." (Hujan, Pak."), jawabku sambil menunduk takut. Tidak ada yang bisa kami jelaskan kepada Pak Topo karena dia lebih tahu apa yang terjadi dengan kami tanpa perlu kami jelaskan lebih lanjut. "Ujan bae dak cukup e? Ikak pasti maen ujan, liet dak bajuk-bajuk ikak ni lah berwarne kuning? Semue telapak tangan ikak keriput. Mate ikak mera semue e. Pastilah ikak maen ujan. Sampek dak sadar agik waktu e ke sekulah." (Hujan saja alasannya tidak cukup ya? Kalian pasti main hujan, lihatlah baju-baju kalian sudah berwarna kuning? Telapak tangan kalian keriput dan mata kalian semuanya merah. Pasti main hujan. Sampai tidak sadar lagi waktu ke sekolah."), kata pak Topo sambil menjewer kuping kami satu persatu. Kami masuk kelas, duduk di bangku masing-masing. Semua kawan-kawan sekelas kami tertawa kesenangan, mensyukuri kami kena jeweran pak Topo yang terkenal sakit sekali.

Pas jam 13.00 seluruh siswa-siswa sekolah pulang. Kami yang terlambat mendapat hukuman terakhir dari pak Topo. Hukuman itu menyapu kelas dan mengepel lantainya sampai bersih. Sesudah itu baru kami bisa pulang. Kawan-kawan kami sudah sampai dirumah masing-masing dan sudah makan. Sementara kami masih berjalan terseok-seok dijalan dan kelaparan.

Grace Siregar

Perupa

21 Oktober 2010

Biografi Grace Siregar:

Aku adalah anak kedua dari tujuh bersaudara keluarga Siregar dan Sihombing. Boleh dikata kami adalah keluarga Kristen yang tradisional dan terbuka. Nenek moyang bapakku berasal dari kampung Siregar, di Muara Siregar, Danau Toba. Tetapi Opung Doli kami, Waldemar Siregar, merantau ke Tarutung dan menikah dengan Opung Boru kami, Clara Situmeang. Opung Doli artinya Kakek dan Opung Boru artinya Nenek. Disitulah bapakku dilahirkan dan dibesarkan bersama-sama dengan ketiga saudara-saudaranya.

Tahun 1968, aku dilahirkan di Rumah Sakit Umum Tarutung. Waktu itu, aku sudah mempunyai seorang abang laki-laki. Karena situasi yang begitu sulit untuk mendapat pekerjaan teknik, akhirnya bapakku memutuskan untuk merantau, mencari pekerjaan ke Pulau Bangka. Bapakku meninggalkan mamakku dan kami berdua anak-anaknya yang masih kecil pergi demi masa depan yang lebih baik. Walaupun keluarga opungku memiliki tanah sawah yang luas, ternyata bapakku tidak mencintai menjadi petani tetapi mencintai pekerjaan teknik. Akhirnya, Bapakku berangkat dengan teman semarganya Siregar dengan naik kapal laut, Tampo Mas, dari Pelabuhan Belawan Medan, dengan uang seadanya.

Pulau Bangka yang memiliki biji-biji Timah terbanyak setelah Brazil, menjadi tujuan insinyur-insinyur muda dan anak-anak muda seperti bapakku untuk bisa bekerja di Perusahaan TTB (Tambang Timah Bangka). Setelah setahun di Bangka dan berhasil mendapat pekerjaan di TTB, akhirnya bapakku memutuskan untuk pulang ke Tarutung, menjemput kami sekeluarga, pindah ke Pulau Bangka.

Disinilah, di Pulau Bangka ini, aku dan saudara-saudaraku dibesarkan, bahkan adikku yang ke-empat sampai dengan adikku yang ke-tujuh lahir dan dibesarkan di tanah Melayu, Bangka ini. Bahasa Melayu Bangkapun menjadi bahasa nomor satu kami setelah bahasa Batak dan Indonesia.

Rachel Menayakan Tentang HIV/Aids Kepada kami Berdua

Makan malam semalam, tiba-tiba Rachel menanyakan tentang HIV/Aids dan penularannya kepada kami berdua.

"Dari mana kau tahu soal HIV/Aids itu, nang?" tanya bapaknya sambil melihat kearah Rachel.

"Aku baca dikoran pak. Aku baca Pangeran Harry menolong anak-anak penderita HIV di yayasannya. Trus aku lihat Pangeran Harry memeluk anak penderita HIV itu." kata Rachel berterus terang.

"Oooh." kata bapaknya mengangguk

Kami bertiga diam sejenak.

"HIV/Aids ditularkan lewat hubungan sexual tanpa memakai kondom oleh pacar atau suami yang suka jajan diluar sehingga menularkannya kepada pacar, istri dan anak-anaknya. Cara lain melalui pemakaian jarum suntik berganti-ganti oleh pecandu Narkoba. Ada beberapa kasus penderita HIV/Aids ditulari melalui transfusi darah yang diterimanya karena donor darah yang akan menyumbang darahnya, tidak diperiksa kesehatannya terlebih dahulu."

Rachel mendengarkan dengan seksama sambil menyantap makan malamnya.

"Awal ditemukan penyakit HIV/Aids ini diderita oleh pasangan homosexual atau gay. Tetapi sekarang, siapa saja bisa tertular HIV/Aids, tanpa terkecuali." tambah Alexander lagi.

"Hubungan sexual itu apa, pak?" tanya Rachel lebil lanjut.

Dari dulu, kami berdua sudah sepakat akan membahas apa saja secara terbuka kepada Rachel, yang dilemparkannya di atas meja makan bersama kami bertiga seperti makan malam ini.

"Hubungan sexual itu adalah hubungan sex antara pasangan suami istri seperti bapak dan mamak, hubungan sex dengan pasangan pacar, hubungan sex pasangan sejenis yang disebut pasangan homo dan lesbian dan hubungan sex yang bukan dengan pasangan tetapi berdasarkan bayaran. Banyak sekali hubungan sex diluaran sana, yang dilakukan tanpa memakai Kondom." jelas Alexander lebih lanjut.

"Kegunaan kondom itu, selain menghindari tertularnya penyakit-penyakit sexual yang berbahaya seperti HIV/Aids tadi, juga menghindari perempuan-perempuan muda hamil diluar nikah, yang terpengaruh oleh rayuan gombal pasangannya, sehingga hamil, laki-lakinya kabur, bayi lahir dan dibuang karena perempuannya takut, bukan saja oleh amarah keluarga tetapi takut akan dicemoohkan dilingkungan sosialnya. Mengerikan sekali, nakku." kataku menambahkan sambil menyandarkan punggungku kekursi.

Kami makan dengan suasana hening, terdiam. Hanya bunyi sendok dan piring saja yang menguasai makan malam kami.

"Kita beruntung hidup di negara yang terbuka dengan persoalan HIV/Aids ini, nang. Bukan saja HIV/Aids dibicarakan secara terbuka dan terus menerus dimasyarakat kita, juga para penderita HIV/Aids ditangani dan diobati secara serius, tanpa diskriminasi, sama dengan penderita-penderita sakit pada umumnya. Bapak senang pelajaran tentang sex dan HIV/Aids masuk kedalam mata pelajaran pokok diseluruh Britania Raya ini agar anak-anak seusiamu sudah mendapat informasi yang jelas dan lengkap. Indonesia belum mencapai ke taraf ini."

"Mengapa, mak, Indonesia belum?" tanya Rachel kearahku dengan telak. Aku terdiam sejenak, berpikir, mengambil fakta-fakta yang selama ini kulihat dan dengar dari teman-teman yang bekerja di yayasan Aids Indonesia.

"Karena kebanyakan pemerintah dan masyarakat Indonesia tidak mau terbuka membahas HIV/Aids di Indonesia. Karena kebanyakan beranggapan Indonesia tidak memiliki penderita HIV/Aids. Karena malu dan tabu. Walaupun menurut Badan Kesehatan Dunia penularan HIV/Aids di Indonesia seperti gunung fulkanik yang siap meletus jumlah penderitanya." kataku sedikit emosi.

Sekarang Alexander dan Rachel yang melihat kearahku. Aku menambahkan nasi kepiringku. Makan Malam dilanjutkan lagi.

"Nang, kau anak perempuan bapak dan mamak satu-satunya. Saat kau besar nanti, kau bisa melihat semua masalah dengan pengetahuanmu, pikiran dan hati nuranimu. Terutama saat kau punya pacar nanti. Kebanyakan laki-laki adalah gombal. Laki-laki ini akan mengeluarkan rayuan gombalnya saat dia ingin mengajak pacarnya tidur. Jangan heran nantinya bapak dan mamak akan terlibat memberi nasihat kepada pacar pilihanmu." kata Alexander serius melihat kemata Rachel.

Kami berdua melihat anak kami Rachel yang berusia 10 tahun dan polos ini. Melihat dunia besar didepannya. Bunyi sendok, piring dan kunyahan makanan didalam mulut kami beradu.

"Ya, paak."

Hove, makan Malam, 11 Januari 2011.

Grace Siregar

Tuesday, October 12, 2010

Layar Tancap Di Bangka

Layar tancap atau layar tancep dalam bahasa Melayu Bangka adalah pemutaran film gratis yang paling kami tunggu-tunggu sebagai anak-anak di Kompleks Tambang Timah Bangka (TTB) Ake. Layar tancep adalah kegiatan pemutaran film yang diselenggarakan oleh perusahaan Timah Bangka kepada seluruh pegawai-pegawai dan keluarganya yang tinggal menyebar diseluruh pelosok kampung atau hutan pedalaman di Pulau Bangka. Pemutaran film gratis ini dilakukan secara bergilir dan tidak pernah diberitahu terlebih dahulu kepada masyarakat yang akan didatangi petugas layar tancap ini. Mereka datang tiba-tiba seperti banjir bandang menghantam daerah rendah layaknya!


Bukan hanya kami saja yang menyukai pertunjukkan film layar tancep ini, tetapi seluruh masyarakat yang tinggal dii kompleks TTB Ake, bahkan seluruh masyarakat tiga kampung yang mengelilingi kompleks kami, yang dibatasi oleh hutan yang lebat. Ketiga kampung itu adalah kampung Simpang, kampung Simpang Rumbiak dan Kampung Jelutung. Sementara Kompleks TTB Deniang laut memiliki jadwal layar tancep tersendiri.


Pemutaran film layar tencep ini dilakukan secara manual. Dua balok kayu besar dan tinggi akan ditancapkan ditanah seperti tiang goal sepak bola. Setelah itu dibentangkanlah layar film berwarna putih atau krem yang terbuat dari bahan kain putih tebal dikedua tiang atas dan bawahnya. Panjang kain layar tancep ini kira-kira 8M dan lebarnya 4M. Besar sekali. Proyektor film berukuran besar dipasang diatas kepala truk tersebut. Tentu tinggi rendahnya proyektor disesuaikan dengan tingginya layar tancep. Proyektor ini dipasang pas dibelakang penonton. Pemutaran film layar tancep ini biasanya diputar ditengah-tengah lapangan sepak bola pada malam hari sekitar jam 20.00 WIB.


Malam itu, kira-kira jam 19.30 WIB terdengar suara truk TTB Mang Aripin memasuki kompleks kami. Semua masyarakat keluar dari rumahnya untuk memastikan apakah yang datang itu truk Mang Aripin atau bukan? Kalau truk Mang Aripin yang datang berarti akan diputar film gratis layar tancep di kompleks kami. Kami anak-anak berlari menujuh truk Mang Aripin, menyambutnya, bersorak sorai kegirangan. Biasanya Mang Aripin dan petugas layar tancep akan tersenyum-senyum sambil melambai-lambaikan tangan kearah kami. Kami akan berlari mengikuti truk Mang Aripin dari belakang. Mang Aripin akan mengeluarkan kepalanya sambil berteriak: "Budak-budak, ikak gi keliling kompleks ikak ni, bilang ade pilem layar tencep sebentar agik, ok? Ni Mamang lah bawa urang-urang pilem e...!" (Anak-anak, pergilah kalian berkeliling kompleks rumah kalian ini untuk kasih tahu bahwa film layar tancep akan diputar sebentar lagi ya? Nih, mamang sudah membawa orang-orang filmnya...!").


Sebelum truk Mang Aripin sampai ditengah lapangan sepak bola, aku, abangku dan kawan-kawan akan berlari kerumah mengambil sepeda milik bapak dan mamak masing-masing. Aku mengambil sepeda laki-laki bapakku yang mempunyai besi ditengah-tengahnya sehingga badanku menyamping kekiri saat mengincangnya. Abangku mengambil sepeda Unta milik mamak kami yang tidak mempunyai besi ditengah-tengahnya sehingga abangku bebas bergerak mengincang.


Kami mengincang sepeda-sepeda kami, menjemput kawan-kawan lainnya sambil berteriak sekuat-kuatnya:"Pilem layar tancep lah dataaaang...!! Pilem layar tanceeep lah dataaaaang!! Pileeem!! Layar tanceeep!!" Kami berteriak sekuat-kuatnya, sampai terasa urat dileher mau putus tetapi kami tetap bersemangat memberitahukan ke seluruh masyarakat di kompleks kami.


Pada putaran kedua, kami melihat dari jauh lampu-lampu berdatangan dari arah jalan utama yang menghubungkan kompleks TTB Ake dengan ketiga kampung tetangga kami yaitu kampung Simpang, Kampung Simpang Rumbiak dan kampung Jelutung. Mereka berduyun-duyun datang dengan bersarung untuk mengusir rasa dingin nantinya dengan bersepeda, berjalan kaki, atau menumpang mobil Pownis milik Asuk Aliung atau Asuk Liauw. Biasanya mereka lebih tahu duluan tentang kedatangan layar tancep ini karena truk Mang Aripin selalu melewati ketiga kampung tersebut. Aku, abangku dan kawan-kawanku semuanya menunggu para tetangga kami diperbatasan jalan utama. Kami semuanya senang karena kompleks kami ramai kembali.


Salah satu tetangga kami yang datang adalah Ahiung dan Asiuk yang digonceng dibelakang sepeda oleh bapak mereka, Asuk Ahiung. Sedangkan Aji Ahiung datang dengan mengonceng kakak perempuan Ahiung, Asian. Kedua orangtua Ahiung datang sambil membawa jualan mereka masing-masing. Asuk dan Aji Ahiung menjual Kemplang Ikan dengan Cuka Tauconya yang enak sekali, Kacang Tanah, Kue Satu, Kue Rintak, Roti Isi atau Roti Manis, Es Bungkus kacang Hijau dan sebagainya.


Aku dan abangku pulang kerumah mengantar sepeda. Kami semuanya akan membawa sesuatu ke lapangan sepak bola untuk menonton. Aku dan abangku akan pergi duluan mencari tempat yang pas untuk menonton sambil membawa dua kursi rotan untuk bapak dan mamak kami. Setelah itu abangku akan menjaga tempat kami dan aku akan kembali kerumah menjemput kedua adik perempuanku yang akan membawa bantal, sarung yang diikatkan didalam tikar sebagai alas kami menonton nantinya. Mamak dan bapak kami akan mengendong kedua adik kami yang lebih kecil sambil membawa obat nyamuk bakar Baygon. Inilah alat-alat yang kami butuhkan untuk menonton Layar tancep. Ritual membawa sebagian peralatan rumah ini juga dilakukan oleh seluruh tetangga-tetangga kami. Suasananya pun mirip dengan suasana tamasya dadakan.


Sebelum film layar tancep diputar, hampir semua anak-anak diberi jajan Rp.25 oleh orangtua masing-masing, termasuk mamak kami. Kami akan menyerbu Asuk dan Aji Ahiung yang saat itu sedang sibuk melayani permintaan anak-anak lain. Yang paling kami sukai adalah belanja kemplang ikan bercuka tauco buatan Aji Ahiung. Kemplang dalam bahasa Melayu Bangka artinya kerupuk yang dimasak dengan pasir panas, bukan dengan minyak goreng. Aku dan kedua adik perempuanku sibuk memilih kempalng ikan dari plastik besar bening tua. Kami memilih kemplang tebal dan lungkum. Lungkum dalam bahasa Melayu Bangka artinya berlekuk dalam dan tidak rata. Setelah dapat 6 kemplang maka kami memberi cuka sebanyak-banyaknya dan menghirupnya. Enaknya bukan main. Sangkin seringnya dibasahi oleh cuka tauco itu maka kemplang berlobang. Aji Ahiung akan menegur kami. "Cube ikak ni jangen banyek igak ge merik cukak e tuh. Abis lah cukak e tuh kelak sementara kemplang jualan Aji agik banyak." (Coba jangan terlalu banyak memberi cukanya. Nanti cukanya habis sementara kemplangnya masih banyak,"). Abang kami membeli es bungkus dan kacang tanah untuk bapak kami.


"Yo budak-budak, jangan ngerentang tiker e deket igak kek layar. Kelak mate ikak bute e? Yo, munduuur!" (Ayo, anak-anak jangan menggelar tikarnya terlalu dekat dengan layarnya. Nanti mata kalian buta lho? Ayo, munduuur!"), teriak salah satu petugas layar tancep melalui speaker halo-halonya. Ibu-ibu memanggil anak-anak mereka masing-masing untuk menggelar tikarnya sedikit lebih jauh dari layarnya.


Pemasangan layar tancep hampir selesai. Seluruh masyarakat sudah duduk dengan tenang dikursi dan tikar masing-masing. Ada juga yang memilih berdiri dibelakang, dekat dengan truk Mang Aripin yang dipakai sebagai sandaran proyektor film. Mereka ini adalah pasangan muda-mudi yang sedang pacaran. Aku dan seluruh saudara-saudaraku duduk ditikar, berselimut sambil memakan kemplang-kemplang kami. Obat nyamuk bakar Baygon sudah dihidupkan oleh bapak kami dan ditaruh dibawah kedua kursi rotan kami. Kedua adik kami yang lebih kecil sudah tidur nyenyak, beralaskan bantal sebelum film diputar.


Disebelah kiri kami duduk kawanku Rohilah beserta dengan keluarganya. Disebelah kanan kami telah duduk Bik Rumiah dan anak-anaknya. Bik Rumiah duduk sambil merokok rokok merk Hero. Dibelakang kami sudah duduk keluarga Amangboru Lehet Situmeang. Didepan kami duduk kawanku Tini dan keluarganya, bapak dan ibu Muharom. Semuanya menunggu film layar tancep diputar. Biasanya kami tidak tahu film apa yang akan diputar. Film itu ditentukan dari kantor pusat Timah Bangka di Sungailiat.


Film-film yang diputar biasanya film-film Indonesia seperti film komedi yang dibintangi Binyamin S, Ratmi B29, Titik Sandora, Titik Puspa, Sofan Sofyan, Bing Slamet dan seterusnya atau film-film Kung Fu, film-film India dan film-film Cowboy Amerika. Apapun yang diputar, kami semuanya akan senang sekali.


Setelah diberi kode tanda film diputar dengan munculnya gambar bulatan ditengah-tengah layar dengan diikuti hitungan mundur dari 10 ke 0, maka dimulailah film itu. Kali ini film komedi yang dibintangi oleh Benyamin S dan Ratmi B29 yang diputar. Gambar pertama muncul, belum ada cerita, baru muka Benyamin S dan Ratmi B29 yang terlihat, kami semua, seluruh masyarakat gabungan keempat kampung yang memenuhi lapangan sepak bola tersebut tertawa terpingkal-pingkal, dari awal sampai dengan akhir cerita. Seluruh isi perut diaduk, air matapun (kadang) sampai meleleh oleh lucunya lakon Benyamin S dan Ratmi B29.


Kalau film India yang diputar, maka seluruh ibu atau para wanita mudanya akan terisak-isak menangis, mengikuti cerita cinta laki-laki muda, tampan, baik hati tapi miskin ditolak mentah-mentah oleh keluarga kekasih perempuannya yang kaya raya itu. Penonton laki-lakinya, yang terdiri dari bapak-bapak dan pemudanya, berpura-pura tidak terbawa oleh emosi. Diam-diam saja menonton sambil merokok. Membiarkan para wanita mengikuti emosi yang menyedihkan, merasakan pilunya jalan percintaan di film India itu karena persoalan kemiskinan. Seringkali terdengar siulan nakal dari penonton-penonton lainnya untuk meledek. Kalau siulan ledekan itu kena dengan adengannya maka seluruh penonton dilapangan sepak bola ini akan tertawa bergemuruh. Para ibu-ibu dan pemudinya akan terhibur saat pemeran laki-laki utama dan perempuannya, bertemu, berkejar-kejaran sambil bernyanyi-nyanyi, mengungkapkan perasaan hati masing-masing, bersembunyi dari satu pohon ke pohon yang lainnya, diguyur oleh hujan lebat sehingga basah kuyub.


Terus terang waktu aku kecil dulu, aku tidak pernah mengerti adengan yang satu ini. Perasaan saat tetangga belakang kami, bang Ahmad, putus dengan pacarnya, ayuk Nur, tidak pernah punya adengan seperti ini. Bang Ahmad sedih saja, tidak berkejar-kejaran dengan ayuk Nur, dari satu pohon ke pohon lainnya sambil menari-nari kesedihan sambil diguyur hujan lebat. Bang Ahmad putus dan putusnya dia dengan ayuk Nur menjadi bahan perguncingan sekampung kami, Titik.


Kalau film Kung Fu yang diputar, saat para tokoh baik dan jahatnya berkelahi, maka bergemuruhlah seisi lapangan bola oleh suara para bapak-bapak dan lelaki-lelaki mudanya mendukung yang benar. "Awaaas! Ade musuh ka dibelakang tuh mawak paraaang!" (Awas! Ada musuh dibelakangmu tuh membawa parang!"), teriak mereka memberitahu jagoannya dilayar. Entah mengapa, setiap ada penonton yang berteriak memberitahu, maka jagoan kungfunya selalu mendengar dan menoleh kebelakang sambil memberi tendangan balasan atau mengelak serangan musuhnya. Seluruh penonton pun tegang! Rasa tegang ini secara tidak sadar membuat semuanya berteriak mengikuti bunyi suara loncat tendangan tokoh utama di film tersebut :"Ciiaaat! Ciiiiiaaaaat! Bak! Bik! Buk! Huh! Eeeiiits!" Sebagian penonton bahkan meniru gerakan-gerakan kungfu sendiri sehingga membuat sebagian penonton yang sadar tertawa geli. "Huuush! Diem gee!" (Huush, diamlah!"), tegur penonton yang merasa terganggu.


Kalau film-film Cowboy yang diputar, semua penonton akan berseru-seru sambil berteriak-teriak mengikuti suara derap kaki-kaki kuda saat terjadi penyerangan Indian kepada kelompok masyarakat Amerika didalam kereta-kereta kudanya, berlindung dari serbuan panah-panah Indian. Biasanya serangan ini terjadi didaerah gurun gersang dan panas. "Mane anak mudak e? Dimane die sembunyik e? lah mati lum die e? Men die dak keluar dari tempet sembunyik e, diorang semue e pasti mati budu dipanah urang-urang Indian tuh!" (Mana tokoh utamanya? Dimana dia bersembunyi? Sudah mati belum dianya? Kalau dia tidak keluar dari tempat sembunyiannya, mereka semuanya pasti akan mati bodoh dipanah oleh orang-orang Indian tuh!"), celetuk beberapa penonton yang tidak sabar menunggu serangan balik pemeran utamanya. Seluruh lapangan sepak bola ini akan bergemuruh oleh suara-suara penonton yang terbawa suasana perang bercampur dengan suara-suara gaduh dari speaker-speaker layar tancep itu. Sebagian akan meniru suara teriakan-teriakan orang-orang Indian: "Wu, wu, wu, wu, wu, wuuuuuuu.....!" yang berlari ketakutan, menghilang, akibat serangan balik bertubi-tubi dari pemeran utamanya.


Film layar tancep selesai diputar, seluruh masyarakat puas, terhibur oleh cerita yang diputarkan. Semua berdiri, menggerakkan badan kekiri dan kekanan supaya urat-urat yang tegang tadi lemas kembali. Para laki-laki dan anak-anak mudanya akan membantu para pekerja layar tancep membongkar kedua tiangnya, melipat layar lebarnya, mengemas proyektornya dan memasukkannya kedalam kotak-kotak besar yang tersedia, kemudian mengangkat dan mengatur peralatan-peralatan itu kedalam truk Mang Aripin. Seluruh petugas layar tancep naik kedalam truk belakang sambil mengucapkan permisi. Mang Aripin membunyikan klason truknya tiga kali tanda dia akan berangkat menujuh Sungailiat.


Kami semuanya mengucapkan banyak-banyak terimakasih, melambai-lambaikan tangan kepada Mang Aripin dan seluruh pegawai layar tancep yang berdiri dibelakang truk.


Kamipun berkemas, menggulung tikar-tikar, mengangkat kursi-kursi, membawa bantal dan selimut pulang kerumah. Bapak dan mamak kami mengendong kedua adik kami yang tidur nyenyak kembali kerumah. Besoknya, kami berebut bangun pagi, pergi dan menyusuri lapangan sepak bola untuk mencari uang-uang recehan yang terjatuh atau hilang semalam. Rezeki nomplok yang diberikan oleh layar tancep!


Grace Siregar

Perupa

12 Oktober 2010


Biografi Grace Siregar:

Aku adalah anak kedua dari tujuh bersaudara keluarga Siregar dan Sihombing. Boleh dikata kami adalah keluarga Kristen yang tradisional dan terbuka. Nenek moyang bapakku berasal dari kampung Siregar, di Muara Siregar, Danau Toba. Tetapi Opung Doli kami, Waldemar Siregar, merantau ke Tarutung dan menikah dengan Opung Boru kami, Clara Situmeang. Opung Doli artinya Kakek dan Opung Boru artinya Nenek.


Disitulah bapakku dilahirkan dan dibesarkan bersama-sama dengan ketiga saudara-saudaranya.

Tahun 1968, aku dilahirkan di Rumah Sakit Umum Tarutung. Waktu itu, aku sudah mempunyai seorang abang laki-laki. Karena situasi yang begitu sulit untuk mendapat pekerjaan teknik, akhirnya bapakku memutuskan untuk merantau, mencari pekerjaan ke Pulau Bangka. Bapakku meninggalkan mamakku dan kami berdua anak-anaknya yang masih kecil pergi demi masa depan yang lebih baik. Walaupun keluarga opungku memiliki tanah sawah yang luas, ternyata bapakku tidak mencintai menjadi petani tetapi mencintai pekerjaan teknik. Akhirnya, Bapakku berangkat dengan teman semarganya Siregar dengan naik kapal laut, Tampo Mas, dari Pelabuhan Belawan Medan, dengan uang seadanya.


Pulau Bangka yang memiliki biji-biji Timah terbanyak setelah Brazil, menjadi tujuan insinyur-insinyur muda dan anak-anak muda seperti bapakku untuk bisa bekerja di Perusahaan TTB (Tambang Timah Bangka). Setelah setahun di Bangka dan berhasil mendapat pekerjaan di TTB, akhirnya bapakku memutuskan untuk pulang ke Tarutung, menjemput kami sekeluarga, pindah ke Pulau Bangka.

Disinilah, di Pulau Bangka ini, aku dan saudara-saudaraku dibesarkan, bahkan adikku yang ke-empat sampai dengan adikku yang ke-tujuh lahir dan dibesarkan di tanah Melayu, Bangka ini. Bahasa Melayu Bangkapun menjadi bahasa nomor satu kami setelah bahasa Batak dan Indonesia.